Lampion “Kehidupan” Dari Buah Batu

Usaha lampion yang ditekuni lajang ini kecil saja ruang lingkupnya. Namun, ternyata mampu menyinari kehidupan banyak orang di sekitarnya.

Dari sebuah ruang tamu sederhana berukuran 3×4 di rumah mungil di kawasan Buah Batu, Bandung, yang padat, Maulli Remauldi (27) menghasilkan ratusan buah lampion cantik. Lampion aneka jenis dan warna buatannya banyak dicari orang untuk penghias rumah nan apik. 

Menjelang Imlek sekarang ini, Mully, begitu ia disapa kebanjiran pesanan. Tentu saja, karena Imlek, kan, identik dengan lampion. Selain pembeli dalam negeri, Mully juga mendapat pembeli dari luar negeri, seperti Jerman dan Australia. Dalam sebulan, omsetnya sudah mencapai Rp 180 juta!
Apa istimewanya lampion Mully dengan lampion lain? Dengan yakin, sarjana lulusan FIKOM Universitas Padjadjaran ini mengatakan, produknya lebih halus, murah, dan tersedia dalam beragam pilihan. ”Kami berani, kok, bersaing dengan lampion produk China atau Jepang,” kata Mully yang menilai lampion produk China yang dijual di Glodok, Jakarta bentuknya seragam.

AWALNYA, PENGALAMAN SPIRITUAL
Ada cerita menarik, kenapa pemilik CV Multi Karya ini menekuni bisnis lampion, dan sukses. Dua tahun lalu, Mully pernah berada dalam kondisi sakit parah, dan hampir meninggal. ”Nah, saat antara hidup dan mati itu, saya seolah-olah melihat orang-orang berseliweran di depan saya. Diantara orang-orang tersebut adalah orang-orang China dengan pakaian putih-putih. Seperti yang sering terlihat di film-film horor.”
 Bagi Mully, ”pengalaman spiritual” ini sangat menghentaknya, dan membuatnya ingin menjadikan kondisi buruk ini sebagai peringatan yang terakhir. Maklum beberapa kali ia keluar-masuk rumah sakit lantaran penyakit ”dalam”, begitu ia menyebut penyakitnya. Penyakit yang menggerogoti tubuhnya itu, lanjut pria bertubuh kurus ini, buah dari kenakalannya. ”Saya dulu nakalnya minta ampun. Semua ’obat’ sudah saya coba. Akibatnya, badan jadi rusak dan kerap keluar-masuk rumah sakit.”Bahkan saking seringnya keluar masuk RS, warga kampung tempat tinggalnya di Sadakeling, Bandung sampai ”bosan” ketika diminta mengirim doa untuk Mully. Memang di kampungnya ada kebiasaan, tiap malam Jumat ada pengajian, sekaligus doa bersama untuk warganya yang sedang sakit. ”Maklum yang lain sudah sembuh, tapi saya masih sakit. Yang lain sudah meninggal, tapi saya masih hidup,” ujarnya dengan mata menerawang mengingat kegawatan kondisinya saat itu.

BISA PESAN SATUAN
Nah, ketika kesehatannya membaik usai mendapat ”penglihatan” tadi, Mully langsung menanamkan tekad kuat di hatinya. ”Saya bertekad sisa hidup saya harus berguna. Paling tidak untuk saya pribadi dulu. Saya ingin berbuat sesuatu.”
Entah dari mana asalnya, terlintas ide di benaknya, untuk membuat lampion. Alasannya sederhana saja, karena barang ini belum banyak yang membuat. Dengan pengalaman nol, ia pun mulai membuat lampion dalam jumlah terbatas. ”Semula saya membuat lampion untuk lampu hias di kamar. Eh…banyak teman yang tertarik dan pesan untuk dibuatkan.”

 Dari situlah, ia kepikiran menjadikan lahan bisnis. Hanya saja, kondisi kesehatan Mully masih ringkih dan kerap masuk angin jika ke luar rumah. Kondisi ini memaksanya mencari akal bagaimana memasarkan buah karyanya tanpa harus keluar rumah. ”Jalan satu-satunya harus lewat internet,” tandas Mully. Ia memajang foto karya-karyanya di internet, lengkap dengan bahan-bahan yang dipakai, harga dan nomor telepon serta e-mail-nya.Rupanya pemasaran lewat internet ini menjadi ”jodoh” Mully. Satu dua orang mulai pesan. ”Ada yang pesan sesuai barang yang saya pajang. Tapi banyak pula yang minta dibuatkan desain khusus. ”Semua saya layani dengan sepenuh hati,” aku Mully. Jika pesan desain khusus, lanjut Mully, ia akan mengirimkan gambar ke pemesan lebih dulu, atau sebaliknya, pelanggan bisa kirim desain yang diinginkan. Semua transaksi dilakukan lewat online, pesan, bayar uang, lalu barang dikirim.Ia memegang teguh salah satu prinsip bisnis, yakni jangan mengecewakan pelanggan. ”Tak ada minimal order. Satu pun saya layani. Kalau yang pesan seribu orang, berarti sama saja dengan dapat order seribu, kan?” Hasilnya? Dalam tahun pertama saja omsetnya sudah Rp 75 juta. Tak salah jika akhirnya dengan berani Mully menjadikan lampion sebagai obor kehidupannya.

INGIN REBUT LAMPION
Selain model, pelanggan juga bisa memilih bahan (kain atau kertas daur ulang), dan warna. Ada beragam model yang ditawarkan Mully. ”Yang sering dipesan yang bentuknya bulat, kapsul, kotak, kubus, piramid, atau tabung” kata Mully yang diuntungkan dengan booming tren rumah minimalis beberapa tahun belakangan ini. ”Banyak pemilik rumah minimalis yang pesan lampion hias ke saya untuk desain interior rumahnya.”
 Untuk pelanggan perorangan, kata Mully, pesanan biasanya dalam jumlah satuan. Paling banter dua atau tiga untuk satu rumah. Beda dengan perusahaan atau pemilik wedding organizer yang pesan dalam jumlah banyak. ”Khusus untuk wedding organizer, saya biasanya ikut menentukan desainnya. Saya tanya dulu tema pesta apa. Saya akan mengajukan beberapa model yang sesuai,” tandas Mully yang belakangan ini banyak mendapat pesanan lampion untuk menghiasi beberapa pusat perbelanjaan dan hotel berbintang di Jakarta. Bahkan di bulan Januari ini ia kebanjiran pesanan lampion promosi dari beberapa merek minuman.

LIBATKAN SANTRI
Setelah kebanjiran pesanan, bungsu dari dua bersaudara ini akhirnya bekerja sama dengan Sundayana, salah satu kerabatnya di Buah Batu, Bandung yang jago membuat lampion. ”Sekarang, sih, sudah enak. Dia sudah bisa menerjemahkan pesanan dari gambar. ”
 Setelah bergabung dengan Yana, usahanya semakin berkembang. Yana pula yang bertugas mencari tenaga produksi, sesuai dengan jumlah pesanan yang datang. ”Kalau pesanan sedikit, paling hanya dikerjakan empat sampai lima saudara-saudaranya yang rata-rata ibu rumah tangga. Tapi jika banyak dia juga mengerahkan beberapa anak yang kost di sekitar Buah Batu.”

Untuk proses produksi ini, Yana membagi menjadi beberapa bagian. Tapi yang diserahkan ke orang lain adalah bagian merangkai atau melilit kerangka dan menempel kain. ”Untuk merangkai dan menempel satu lampion, pekerja mendapat upah Rp 3 ribu.” Sehari satu orang bisa mengerjakan 15 buah. ”Itu sudah disambi dengan mengawasi anak, memasak, dan menyelesaikan pekerjaan rumah, lho,” kata Mully yang mematok harga lampion mulai dari Rp 17.500 sampai Rp 750.000. ”Yang mahal, yang ukurannya besar. Biasanya untuk interior hotel-hotel berbintang.”

Sementara untuk finishing seperti merapikan dan membersihkan lem yang menempel serta membuat kerangka dari rotan, ditangani langsung oleh Yana. ”Ini yang penting untuk menjaga kualitas sebelum produk diterima konsumen.” 

Selain menyerahkan pesanan ke warga Buah Batu, Mully juga melibatkan para santri di Pondok Pesantren Ulul Albab, Sadakeling, Bandung di dekat rumahnya. ”Tapi hanya memasang list atau menempel stiker. Lumayan, kok. Kegiatan ini bisa untuk menambah uang saku di sela-sela belajar dan mengaji,” kata Mully yang belakangan ini juga aktif nyantri di pesantren tersebut.

Mully ingin rezeki yang didapat bisa dinikmati banyak orang. ”Jadi, begitu saya dapat pesanan, ada banyak orang yang bakal mendapat rezeki dari lampion.”

Kini, tekad Mully untuk berarti bagi orang lain, seperti keinginannya ketika baru sembuh dulu, telah membuahkan hasil. Ya, lampion Buah Batu made in Mully tak hanya menyinari kehidupannya pribadi, tapi juga menghidupi banyak orang.

Disadur dari : Tabloid NOVA Edisi 1041 Terbit Tanggal 4 Februari 2008

Versi Asli : http://www.tabloidnova.com/articles.asp?id=15821&no=1

Terima kasih kepada Mas Sukrisna atas liputannya & Mas Rommy untuk foto-foto nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: