Umur kok jadi masalah?

JAKARTA (Suara Karya): Sejumlah organisasi kepemudaan mendukung penuh upaya Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga (Menneg Pora) melahirkan Undang-undang (UU) Kepemudaan. Namun hingga saat ini, perdebatan masalah batas umur yang dikategorikan pemuda dan tercantum di draf Rancangan UU Kepemudaan masih menjadi perdebatan.

Demikian terungkap dalam Lokakarya RUU tentang tentang Pembangunan Kepemudaan oleh 20 organisasi kepemudaan di Indonesia serta kalangan mahasiswa, di Jakarta, kemarin.
Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara (Menseneg) Sakhyan Asmara mengatakan, UU Kepemudaan merupakan aspirasi dari masyarakat pemuda, khususnya organisasi kepemudaan dan mahasiswa yang sejak lama mengidamkan UU Kepemudaan. Namun baru sekarang RUU Kepemudaan itu dapat direalisasikan setelah Kementerian Negara Pemuda Dan Olahraga kembali terbentuk.
Lebih lanjut Sakhyan menegaskan substansi Undang-undang Kepemudaan tidak mengatur pemuda secara fisik, melainkan mengatur tentang fungsi yang dititikberatkan kepada perlindungan, pemberdayaan, dan pengembangan pemuda. Tujuannya ialah agar para pemuda dan organisasi/lembaga kepemudaan dapat berdaya, berkembang serta berpartisipasi aktif dalam pembangunan.
Namun beberapa masalah krusial menjadi perdebatan di antaranya soal definisi usia pemuda. Dalam draf RUU, pemuda disebut berusia 18 sampai 35 tahun. Terkait hal ini, beberapa aktivis pemuda mengusulkan usia pemuda hingga 40 tahun.
“Kami akan mempelajari semua masukan tersebut. Semakin banyak masukan semakin baik produk UU tersebutnantinya. Saya berharap RUU ini bisa selesai sebelum waktu yang ditetapkan, sehingga harus segera bisa dibahas oleh DPR,” kata Sakhyan.
Sementara itu, Kepala Badan Pusat Pembinaan Hukum Nasional Prof DR Abdul Gani menyatakan, bahwa Undang-undang ini tidak hanya menekankan dari aspek kepastian hukum, melainkan juga memberikan tekanan kepada aspek keadilan bagi para pemuda dan organisasi kepemudaan. Produk hukum ini juga sekaligus bisa mengatur peran pemuda dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Seperti diketahui, dalam lokakarya yang berlangsung di gedung Bidakara, Jakarta, tersebut hadir para pimpinan organisasi pemuda, di antaranya, Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI), Mahasiswa Pancasila, Angkatan Muda Pembaruan Indonesia (AMPI), Pemuda Muhammadiyah, dan organisasi kepemudaan lainnya. Seluruh organisasi kepemudaan ini diharapkan dapat memberi masukan bagi penyempurnaan RUU Kepemudaan yang diperkirakan selesai sebelum Oktober 2006. (Wem Fauzi)
Sumber : Suara Karya

My Comment: Bapak-bapak ini benar-benar kurang kerjaan ya? Umur saja dijadikan masalah buat isi RUU.. Pak, jangan dilihat umurnya, lihat kontribusi nya saja lah.. Anak kecil yang tidak termasuk usia pemuda saja sudah bisa bawa nama bangsa sebagai juara Olimpiade Fisika & Biologi, masa Bapak yang berpendidikan tinggi (Asli ngga ya ijazahnya??) dan bergaji lumayan besar malah meributkan soal umur pemuda? Kami pengusaha muda Indonesia, Insya Alloh akan selalu menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi kami dan orang lain, bahkan termasuk Bapak, karena dengan menyisihkan penghasilan kami untuk membayar zakat kami membantu meringankan negara mengurangi jumlah orang miskin di Indonesia dan dengan menyisihkan penghasilan kami untuk membayar pajak, yang digunakan untuk menggaji Bapak-Bapak sekalian. Amanat dari kami, mohon jangan sampai uang yang kami setorkan kepada Bapak menjadi sia-sia. Terima kasih.

*Untuk rekan-rekan lain yang ingin berkomentar, sangat dipersilahkan karena negara ini negara demokrasi. ????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: