Perjalanan Bisnis Kelompok Bakrie

1942
Haji Achmad Bakrie mendirikan Bakrie & Brothers General Merchant & Commision Agent.

1959
Bakrie & Brothers memelopori industri pembuatan pipa baja di Indonesia.

1973-1975
Perseroan memperluas usaha ke dalam industri struktur baja, karya logam dan masuk ke proyek-proyek infrastruktur.

1986
Perseroan mengakuisisi Uniroyal Sumatra Plantations, yang kemudian berubah menjadi Bakrie Sumatra Plantations yang go public pada 1990.

1989
Perseroan mulai masuk ke sektor telekomunikasi dan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Jakarta

1991
Perseroan beraliansi dengan Mitsubishi Kasei mendirikan pabrik kimia

1992
Anak perusahaannya, PT Bakrie Pipe Industries, menjadi perusahaan pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi ISO 9002

1993
Perseroan memperoleh lisensi untuk mengoperasikan jaringan telekomunikasi flexible overday

1994
Perseroan melakukan aliansi strategis dengan PTT Telcom (Netherlands). Sukses melakukan right issue dan menerima suntikan modal dari American International Group dari beberapa pemodal dari Jepang

1995
Perseroan mengakuisisi Link Communications (Australia) dan meluaskan bisnis telekomunikasi ke Republik Uzbekistan.

1997
Melakukan investasi di Indium Gobal Mobile Personal Satelite System dan dan tercatat sebagai pemegang saham terbesar keempat.

1998
Memprakarsai program restrukturisasi ulang. Menjual saham di Iridium dan menikmati keuntungan

2000
Menjual saham di Bakrie Kasei dan menikmati keuntungan dalam rangka program restrukturisasi utang.

2001
Selesai menyelesaikan program restrukturisasai utang yang pernah mencapai US$ 1,089 triliun (sekitar Rp 10 triliun)
Oktober 2001, Bumi akuisisi Arutmin US$ 183-185 juta dari BPH Bilitan.

2003
16 Juli 2003, BUMI melakukan perjanjian jual beli (sales & purchase agreement/SPA) atas seluruh saham yang dimiliki oleh anak perusahaan Rio Tinto dan BP Plc, di PT KPC yakni, Sangata Holding (Cayman Island) dan Kalimantan Coal Limited (Mauritus)

2002-2004
Melakukan pembenahan internal dan meningkatkan kinerja

2006
Melepas saham PT Bakrie Telecom ke publik, melalui penawaran perdana.

Di sektor telekomunikasi B&B menjadi pemegang saham pengendali PT Bakrie Telecom Tbk, PT Bakrie Communication, dan PT Multi Kontrol Nusantara. Sedangkan di sektor agribisnis, lewat anak perusahaan PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk, B&B memiliki cucu perusahaan antara lain PT Bakrie Pasaman Plantation, PT Agrowiyana, PT Agro Mitra Madani, dan PT Huma Indah Mekar.
    Nakhkoda B&B sempat diserahkan keluarga Bakrie kepada profesional di luar keluarga, Tanri Abeng. Tetapi ketika profesional yang mendapat julukan manajer Rp 1 miliar saat “dibajak” Bakrie Grup dari Multi Bintang Tbk itu diangkat menjadi menteri BUMN, Indra turun langsung memimpin B&B.
    Indra masuk ke dalam B&B, ketika Indonesia tengah dilanda krisis business hebat. Nyaris seluruh kelompok usaha yang sebelumnya berkibar di dalam negeri ambruk. Depresiasi mata uang membuat kewajiban B&B yang memang sedang giat-giatnya berekspansi ini membengkak. Dari sebelumnya US$ 1,09 miliar atau Rp 2,715 triliun (dengan kurs Rp2,500 per dolar AS), menjadi Rp 10,06 triliun dengan kurs Rp 9.500. Sempat lebih tinggi saat kurs rupiah menembus Rp 15 ribu terhadap dolar AS. Yang membuat kelompok usaha ini babak belur, utang dolar tersebut tidak di hedging (lindung nilai).

RESTRUKTURISASI UTANG
    Untunglah Keluarga Bakrie sigap dalam mengatasi kemelut ini. Bakrie bersaudara di bawah komando, Aburizal, plus Anindya Novyan Bakrie, putra tertua Aburizal yang baru merampungkan sekolah bisnisnya di luar negeri bersama-sama menyusun skema restrukturisasi utang. Kala itu juga masuk wajah baru, Bobby Gafur Umar, profesional muda diluar keluarga Bakrie yang dipercayakan memegang kendali B&B.
    Hasilnya, cukup mengejutkan. Keluarga Bakrie merelakan sahamnya di B&B menciut dari 97,23% menjadi tinggal 2,97%. Hal itu terlihat nyata dalam laporan keuangan konsolidasi B&B tahun 2001, di mana ketika itu PT Bakrie Limited (BL) dan Bakrie Investindo (BIN) masing-masing masih memiliki 95% dan 2,23% saham. Pada laporan keuangan 2004, posisi saham Bl dan BIN masing-masing terdilusi hingga tersisa 1,49% dan 1,42%. Berkurangnya jumlah saham tersebut terjadi lewat mekanisme debt to equality swap (penukaran utang menjadi saham perusahaan).
    Tak cukup hanya itu, Bakrie Group juga harus menempuh pola debt to asset swap atau pengalihan utang menjadi aset. Para kreditor ada yang menerima pola penyelesaian dengan menjadi pemegang saham B&B, ada pula yang menukarkan utang dengan sejumlah aset Bakrie yang tersebar di sejumlah induk perusahaan. Ada 130 kreditor yang bernegosiasi dengan kelompok Bakri untuk menyelesaikan persoalan utang tersebut. Tahun 2001 restrukturisasi utang kelompok Bakrie tuntas.
    Keluarga Bakrie juga harus kehilangan Bank Nusa Nasional saat krisis, setelah sebelumnya sempat berhasil menggabungkan sejumlah bank miliknya. Sejak saat itu, kendali atas manajemen B& B ada di tangan kreditor. Hebatnya, keluarga Bakrie berhasil meminta opsi untuk membeli kembali saham perusahaan-perusahaan Bakrie yang ada di tangan kreditor.

GENERASI KETIGA
    Usai menyelesaikan masalah utang, para profesional muda Bakrie mulai menunjukkan taringnya. Pasca restrukturisasi utang,Bobby Gafur Umar, mempertegas usaha inti B&B yang menjadi cash cow buat pertumbuhan, yaitu perkebunan, telekomunikasi dan infrastruktur. Memasuki tahun 2004, perusahaan mulai mencatatkan penjualan sebesar Rp 1,2 triliun, pada tahun 2005 meningkat dua kali lipat menjadi Rp 2,7 triliun. Beban utang pun kini tinggal sebesar US$ 172 juta dan sudah direstrukturisasi.
    Perkebunan memberikan kontribusi sebesar 33% buat pendapatan B&B, sementara infrastruktur sebesar 55% dan 12% dari telekomunikasi. Namun berdasarkan EBITDA, kontribusi terbesar berasal dari perkebunan sebesar 60%. Kepada Fajar Widhyanto dari Investor, Bobby menyatakan keyakinannya pada tahun-tahun mendatang akan kembali menapaki masa jayanya, seperti ketika sebelum dihantam krisis tahun 1997.
    Sementara itu, Anindya Novyan Bakrie juga makin mantap di posisinya sebagai Presiden Direktur PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL) dan PT Cakrawala Andalas Televisi. Pria kelahiran 10 November 32 tahun silam ini berhasil mencatatkan saham BTEL di Bursa Efek Jakarta (BEJ) pada Februari 2006. Permintaan saham BTEL bahkan melebihi jumlah yang ditawarkan saat dijual di pasar perdana.
    Produk Esia yang diluncurkan BTEL mulai diperhitungkan para pesaing yang sudah lama malang melintang di bisnis telekomunikasi, seperti Telkom dan Indosat. Ayah dua putra itu juga berharap bisa membawa Anteve sama-sama tercatat di papan perdagangan BEJ.
    Sepak terjang bisnis pertambangan Bakrie tak kalah seru. PT Bumi Resources TBk (BUMI) yang dikomandani Ari S Hudaya tiga tahun lalu membeli saham Kaltim Prima Coal(KPC) seharga US$ 500 juta dan membeli Arutmin dengan harga US$ 180 juta tahun 1981. BUMI telah menyepakati penjualan saham di kedua perusahaan tersebut dengan harga US$ 3,2 miliar. Manajemen BUMI akan beralih menggarap coal to liquid (CTL).
    Meski saat ini saham keluarga Bakrie masih minoritas, nama Bakrie tetap dipertahankan sebagai ikon grup usaha ini. Bukan tak mungkin dalam waktu tidak lama lagi, keluarga pengusaha pribumi ini akan kembali menjadi pemilik mayoritas saham-saham kelompok Bakrie.

SUMBER: Putu Anggraeni, Dari berbagai sumber.

www.anindyabakrie.biz

About these ads

2 responses to this post.

  1. Posted by novan on May 28, 2008 at 9:31 am

    saluuutt!!! that’s an excellent example of real business man….

    Reply

  2. Posted by Aditya on August 10, 2008 at 1:53 pm

    hebaaaaat sekali strategi bisnisnya grup Bakrie tapi nasib warga korban lumpur bagaimana??

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 47 other followers

%d bloggers like this: