Ketika Pengusaha dan Eksekutif Mencari Tuhan

Di tengah situasi sulit seperti ini, sangat wajar jika masyarakat mendekatkan diri pada sang pencipta. Tapi ternyata, para pengusaha dan eksekutif yang notabene hidup berkecukupan juga tekun berupaya menemukan Tuhan. Di tengah situasi sulit seperti ini, sangat wajar jika masyarakat mendekatkan diri pada sang pencipta. Tapi ternyata, para pengusaha dan eksekutif yang notabene hidup berkecukupan juga tekun berupaya menemukan Tuhan. Apa yang membuat mereka juga berusaha mendekatkan diri pada sang pencipta? Bagaimana proses pencarian Tuhan yang mereka lakukan? Pengalaman spiritual seperti apa saja yang pernah mereka alami?Ada pengalaman sangat menyentuh yang dialami oleh Rosan P. Roeslani, Direktur Utama Recapital. Saat itu, tepatnya tahun 1996, Rosan menjalankan ibadah umrah untuk pertama kali. Waktu itu, Rosan bertekad untuk bisa mencium Hajar Aswad. Kebetulan Rosan pergi Umrah di bulan Ramadhan pada 10 hari terakhir yang memang sedang ramai-ramainya. “Jam tiga subuh saya bangun dan mandi. Saya berniat untuk melakukan tawaf sebanyak tujuh kali,” ujar Rosan bercerita. “Tetapi pada saat baru mau mulai tawaf, karena ramai sekali, dan saya coba untuk mencium Hajar Aswad, namun ketika sudah dekat malah gagal,” kenang Rosan.
     
Tidak putus asa, Rosan pun berniat untuk kembali pada keesokan harinya. “Besoknya saya niat lagi untuk mencium Hajar Aswad. Orang-orang kan tarik menarik, ramai sekali. Ada orang lompat mendarat di kaki saya, kaki saya menjadi biru. Terus ada orang nyikut saya, rasanya sakit sekali. Terus karena saya sakit, dan waktu itu saya pakai kacamata, lalu saya mundur sambil berkata ‘Ya Allah, saya ingin mencium Hajar Aswad tanpa menyakiti satu orang pun.’ Setelah itu, saya mundur dan ketika saya maju kembali, tidak sampai tiga menit saya berhasil mencium Hajar Aswad,” urai Rosan terharu.
    
Peristiwa itu sangat membekas di hati Rosan hingga saat ini. Bukan kerena keberhasilannya mencium Hajar Aswad, tapi makna di balik peristiwa tersebut. Pasalnya, guru agama yang mendampingi Rosan pada waktu itu mengatakan bahwa peristiwa tersebut adalah cerminan hidup. Dimana jika kita selalu berbuat baik dan tidak menyakiti orang lain, kita akan selalu dimudahkan dalam kehidupan. “Itu memang benar-benar bermakna. Dan sejak saat itu saya berniat untuk melakukan sesuatu yang benar-benar baik, tanpa menyakiti orang, dan benar-benar dari niat yang suci,” kata Rosan seraya mengatakan bahwa peristiwa tersebutlah yang mengubah pandangan hidupnya. “Jadi, itu satu hal yang menjadi tonggak hidup saya yang menentukan niat saya dalam segala hal, baik dalam pekerjaan maupun dalam bersosialisasi atau dalam menghadapi apapun. Kalaupun ada orang yang menyakiti saya, ya sudah, saya ikhlaskan. Dengan begitu, saya jadi lebih enteng,” tambahnya.
    
Do’a terjawab di Betlehem. Sama seperti Rosan, kemahabesaran Tuhan juga sangat dirasakan oleh Bambang Hary Iswanto Tanosoedibjo atau yang kerap disapa dengan Hary Tanoe. Tepatnya di tahun 2000, Hary Tanoe melakukan perjalanan wisata rohani ke Betlehem beserta istri dan teman-teman gerejanya di gereja Bethel Indonesia (GBI). Ada dua keinginan yang dipanjatkan Hary kepada Tuhan. Pertama, Hary yang telah memiliki empat orang putri memohon kepada Tuhan agar bisa dikaruniai anak laki-laki. Dan yang kedua, Hary juga memohon agar bisnis dan kariernya bisa lancar, dan berkembang.
    
Tak lama-lama, do’a Hary langsung dijawab oleh yang maha kuasa. Sebab, sembilan bulan sepulangnya Hary dari Betlehem, isterinya melahirkan seorang anak laki-laki. Begitu pula untuk bisnisnya, sepulang dari Betlehem, bisnis Hary yang sebelumnya hanya berkecimpung di bisnis keuangan berkembang berbagai bidang, bahkan ia bisa memborong saham milik Bambang Trihatmodjo di Bimantara. Hary pun kini sukses memimpin Grup Bimanta, dan MNC (Media Nusantara Citra) yang membawahi tiga stasiun televisi yaitu RCTI, TPI, dan Global TV, jaringan Radio, dan beberapa media cetak.
    
Mengkaji eksistensi Tuhan. Anindya Bakrie, Presiden Direktur Anteve mengaku mendapatkan pengalaman religi berharga pada usia yang relatif masih sangat muda yaitu 14 tahun. Anindya yang memang sejak kecil dilahirkan dalam keluarga yang sangat kental nuansa spiritualnya, pada usia belasan tahun sudah bisa merasakan ibadah haji. Meski saat itu Anindya mengaku kalu dirinya belum terlalu mengerti nilai-nilai keagamaan, namun ia mampu memetik tiga hal dari perjalanan ibadahnya itu. “Yang pertama, Islam itu memiliki pengikut di seluruh dunia yang begitu banyak. Yang memperlihatkan bahwa kebersaudaraan Islam itu benar-benar luar biasa dengan lintas uku, lintas ras, dan lain-lain. Dari situ saya petik hikmah bahwa kita ini semua sama di hadapan sang pencipta. Meski kulit kita ada yang kuning, merah, putih, itu semua sama di hadapan Allah,” ujar Anindya.
    
“Yang kedua, saya melihat bahwa kita itu sebagai manusia hanya sebagian kecil dari konstalasi dunia. Jadi, apa yang kita lakukan harus dilakukan secara serius seolah-olah kita akan meninggal besok. Tetapi juga jangan terlalu ngoyo karena apa sih artinya harta. Tidak hilang saja sudah syukur,” ujar Anindya lagi. “Dan yang ketiga, saya berjanji pada diri saya sendiri kalau nanti punya rezeki, saya akan balik lagi tetapi tentu saja dengan pengetahuan yang lebih bagus,” tambahnya.
    
Anindya memang sangat beruntung. Di usianya yang masih muda, ia susdah bisa mengalami proses pencarian tuhannya. Ketika diajak berhaji oleh kedua orang tuanya untuk yang pertama kali, Anindya sudah bisa menelaah apa yang dilihatnya. “Waktu itu saya mikir, katakanlah Tuhan tidak ada. Sekarang, kenapa ada satu orang yang namanya Muhammad yang kira-kira 1400 tahun yang lalu bisa memiliki influence seperti itu. Istilahnya bukunya saja dibaca oleh seluruh dunia. Padahal buku novel terbagus saja tidak seperti itu. Berarti kan ada sesuatu yang benar,” pikir Anindya. “Sering ketika saya capek, lemas, ataupun panas, tetapi kenapa begitu sembahyang kok merasa tenang. Nah, hal seperti ini yang membuktikan kalau tidak mungkin Tuhan itu tidak ada,” ucap Anindya.
    
Disuruh Batalkan Haji. Ada lagi pengalaman yang menarik yang dialami oleh Ismi Kushartanto, General Manager Bank Permata. Pada tahun 1999, Ismi dihadapkan pada pilihan yang sama-sama berat. Saat itu, Ismi masih bekerja di Bank Exim yang pada tahun 1999 kemudian di-merger dengan Bank Mandiri. Ismi yang saat itu menjabat kepala divisi menghadap atasannya untuk minta izin cuti. “Saya ditanya mau kemana? Lalu saya jawab kalau saya mau naik haji. Kemudian saya ditanya sudah dibayar atau belum. Nah, saya pikir saya ini mau dibayarin. Namun ternyata tidak. Saya malah diminta untuk membatalkan ibadah haji tersebut,” terang Ismi.
    
Ismi kemudian bertanya kepada atasannya mengapa ibadah hajinya harus dibatalkan apalagi sebetulnya keinginan Ismi untuk melakukan ibadah haji merupakan yang diidam-idamkannya sejak dahulu. Bagaimana jadinya jika dibatalkan? Kan belum tentu tahun depan Ismi memiliki kesempatan untuk bisa menunaikan ibadah haji. Akan tetapi saat itu atasannya memberikan alasan bahwa saat ini merupakan kesempatan Ismi untuk dipromosikan sehubungan dengan proses merger. “Yang namanya merger itu, banyak sekali posisi menarik yang ada. Dan jika nanti diseleksi,  jika kamu tidak ada di tempat, tentu hilang kesempatan bagus tersebut,” ujar Ismi mengenang kata-kata atasannya waktu itu.
    
Namun berhubung tekad Ismi sudah bulat untuk melaksanakan ibadah haji, lagi pula Ismi berpikir bahwa jodoh, rezeki, dan kematian sudah diatur Yang Maha Kuasa, Ismi pun tetap melaksanakan niatnya untuk menunaikan ibadah haji. Ternyata, Ismi berhasil lolos dari ujian yang diberikan Allah. Sepulangnya dari haji, Ismi justru mendapatkan posisi yang lebih bagus yaitu memimpin Bank Syariah Mandiri yang baru dibentuk.
    
Diserahi tugas untuk memegang Bank Syariah Mandiri ternyata membuat Ismi semakin teguh pada keyakinannya. “Karena berdasarkan keyakinan saya, maka saya juga bisa melakukan pengalihan dari perilaku riba atas orang-orang lain. Bukankah itu suatu kepuasan tersendiri juga karena mengajak orang untuk melaksanakan ajaran agama,” ucap Ismi. “Jadi, sebagai orang Islam, kenikmatannya bukan hanya pada waktu lahir, menikah dan juga pada waktu mati saja. Tetapi juga bisa dilakukan dengan cara berbisnis,” tambah Ismi.
    
Aries Muftie Gagal Kuliah. Jika yang lain memiliki pengalaman spiritual sehubungan dengan ibadah haji, lain lagi halnya dengan Aries Muftie. Tenaga ahli kementrian BUMN yang Direktur PT Permodalan Nasional Madani ini tersadar akan kebesaran Tuhan saat ia mengalami kegagalan di bangku kuliah. Diakui Aries, saat kuliah ia merupakan orang yang sangat sombong. Bisa jadi karena saat itu Aries kuliah di dua universitas ternama yaitu Universitas Indonesia dan Institusi Teknologi Bandung. “Saya merasa menjadi orang yang top, pinter, the best, dan merasa semuanya bisa,” kata Aries.
    
Tuhan pun menegur Aries dengan cara di mana Aries harus mengalami kegagalan kuliah di tahun kedua. “Tiba-tiba saja saya gagal di tahun kedua. Di sana letak turning point-nya,” tandas Aries. Berhubung sejak kecil Aries sudah terbiasa puasa Senin kamis dan tahajud, ketika dinyatakan gagal, Aries merasa syok dan cenderung menyalahkan orang lain, bahkan Tuhan. Namun itu tidak berlangsung lama. Aries pun  tersadar. Pasca  kegagalannya, Aries memperdalam ilmu agama dibantu oleh seorang Ustad. “Saya membaca buku mengenai takdir, tawakal, dan nasib. Di situ saya menemukan pencerahan bahwa nasib kita itu kita yang memilih sendiri, Tuhan hanya bisa menyediakan pilihan,” ujar Aries. “Setelah itu saya mendapat pemahaman bahwa manusia hanya punya dua tugas dalam hidupnya. Pertama, taqwa kepada Tuhan dan yang kedua adalah selalu berbuat kebajikan karena jika kita tidak berbuat kebajikan maka kita kafir,” terang Aries seraya mengungkapkan bahwa kebajikan itu adalah ketika kita tidak menjadi gangguan bagi orang lain dan lingkungan, tetapi justru bisa bermanfaat.
    
Sama seperti Aries Muftie, begitu juga yang dialami oleh Budiman, Head of Corporate Marketing Garudafood. Pria yang juga menjabat Sekretaris Umum di Majelis Buddhayana Indonesia ini juga menemukan pencarian jati dirinya saat duduk di bangku kuliah. “Saat kuliah saya banyak belajar filosofi-filosofi dan membaca buku-buku spiritual. Beruntung saya dibesarkan di lingkungan yang sangat mengenal karma dimana satu dengan yang lainnya ada kaitannya,” tutur Budiman.
    
Budiman pun menerapkan nilai-nilai religi yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari. “Saya mencoba menyeimbangkan antara kesibukan menjadi profesional dengan tingkat spiritual. Artinya, saya ikut mengambil peran dalam organisasi keagamaan. Contohnya, hari sabtu saya pergi ke Kalimantan. Selain melihat kantor di sana, saya juga akan melakukan musyawarah daerah untuk organisasi keagamaan saya,” terang Budiman.
    
Tenang dan Damai. Berbekal dengan pengalaman spiritual yang dialami para pengusaha dan eksekutif, tak heran kalau membuat mereka merasa tenang dan damai dalam menjalankan aktivitas hidup ataupun bisnisnya sehari-hari. Ulama kondang yang kerap disapa Aa Gym mengatakan bahwa para pengusaha dan eksekutif tersebut sudah menyadari bahwa jika ita hanya disibukkan oleh urusan duniawi saja, lama kelamaan juga akan tumbang. “Yang namanya ketidakseimbangan akan menyebabkan tumbang dalam keluarganya dan citranya di masyarakat. Jadi, kalau dahulu diidolakan sebagai orang sukses, tetapi ternyata tidak diimbangi dengan religiusitas yang kuat, akhirnya akan terjadi ketidakseimbangan,” tutur AA Gym.
    
“Mungkin sekarang ini sudah mulai terlihat bagaimana pengusaha yang memiliki kemampuan spiritual bagus, ternyata lebih mantap di dalam bisnisnya. Baik akhlaknya maupun keluarganya. Dan ini menjadi sesuatu yang mulai dicontoh,” tambah Aa Gym. Tidak hanya itu saja, Aa Gym juga memandang bahwa saat ini banyak orang yang sudah merasa kelelahan di dalam upaya bisnisnya yang tidak diimbangi dengan sikap religius mereka sehingga tidak seimbang dan tidak stabil. “Jadi, kegiatan religi tersebut memng merupakan kebutuhan,” tandas Aa Gym.
    
Senada dengan Aa gym, Dr.Victor M.L. Tobing, Konsultan Manajemen Viatama menyatakan bahwa agama adalah bagian dari kehidupan. “Jadi, dimanapun eksekutif itu berada, dia harus dipayungi oleh ritual yang dia yakini. Jadi bukan bersifat sekuler, bukan manajer sekuler, tetapi manajer sekuler yang masih mempunyai spiritual juga,” ucap Victor.
    
Perasaan tenang dan damai jika kita selalu dekat dengan Tuhan juga sangat dirasakan oleh Eddy Gunawan, Direktur Utama Olympic. Eddy yang sejak 26 tahun lalu mulai intens pergi ke gereja, mengakui perasaan tenang dan damai sangat dirasakannya ketika berada di dalam gereja. Tak heran kalau kini Eddy juga aktif dalam kegiatan keagamaan di gerejanya.
    
Cegah Stres. Oleh karena itu, Lieus Sungkharisma, Ketua Umum Multiculture Society dan Pemerhati Agama Buddha berpendapat bahwa pemahaman agama yang benar buat para eksekutif dan pengusaha tersebut terhindar dari yang namanya stres kerja. Menurut Lieus, masalah religius itu bukan masalah meminta rejeki, tapi lebih berfokus mendapatkan keseimbangan. “Berusaha atau bekerja dalam semua agam itu merupakan kewajiban, berbuat baik, menolong sesama itu juga merupakan kewajiban. Jadi balance-nya adalah kegiatan religius yang dilakukan para eksekutif ini akan menyeimbangkan,” tegas Lieus.
    
Keliru bila ada anggapan bahwa aktivitas keagamaan dan spiritualisme hanya membuang waktu saja. Sebab, menurut Aa Gym, orang seperti itu berari orang yang yang tidak mengerti arti hidupnya. ”Semua manusia kan pasti akan mati. Nah, dia akan pulang ke mana? Tanya Aa Gym. “Orang yang menganggap remeh agama pasti dia hanya karena belum mengerti saja pentingnya agama. Kalau sudah mengerti, maka dia akan berlipat kemampuan suksesnya,” jelas Aa Gym.
    
Bahkan Maya Suchar, Sales Director Allianz, mengakui kalau ada hubungan yang sangat erat antara bisnis, keluarga, dan aktivitas religi. “Misalnya kalau keluarga berantakan, kita tidak akan konsentrasi bekerja. Keluarga berantakan dan kerja tidak baik biasanya manyalahkan yang di atas. Bukannya minta bantuan tapi umumnya malah menyalahkan,” urai Maya.”Jadi, menurut saya keluarga harus harmonis karena bagaimana bisa memimpin orang kalau keluarga tidak harmonis. Dan agar keluarga bisa tetap harmonis, ya kita minta petunjuk yang tidak jauh-jauh, kepada yang di atas,” tambah Maya.
    
Diakui Maya dalam kehidupan sehari-hari ia selalu berusaha untuk menjalankan kewajibannya yaitu shalat lima waktu. “Shalat di mobil pun jadi kalau saya misalnya terlupa. Dan kalau hari libur saya juga suka baca-baca yasin, dzikir ataupun Alquran,” jelasnya.
    
Jika Maya memiliki kebiasaan tersebut, Anindya Bakrie juga memiliki kebiasaan selalu membaca Quran pada hari Jumat. “Meski sibuk, setiap hari Jumat saya selalu menyempatkan membaca Alquran di kantor selama satu jam,” kata Anindya yang juga aktif dalam Bakrie Foundation. Diakui Anindya, setiap ulang tahun dirayakannya bersama anak-anak yatim. “Saya ingin selalu melakukan hal yang membuat anak-anak terlantar menjadi intelektual yang bisa mandiri ke depannya,” ungkapnya.
    
Sisihkan 10 Persen. Jika Anindya aktif di Bakrie Foundation dan selalu berusaha untuk membantu anak-anak terlantar, Rosan P.Roeslani yang juga aktif di Yayasan Amanah Recapital mengaku kalau setiap pemasukkan ataupun pendapatan yang diperolehnya disisihkan sebesar 10 persen untuk diamalkan.
    
Jika saat ini banyak eksekutif ataupun pengusaha yang memiliki aktivitas bersifat religi secar khusus, dipandang Aa Gym merupakan buah kesadaran dari posisi dan intelektual mereka yang membutuhkan kehidupan yang lebih seimbang. Harus kita akui bahwa kesuksesan itu adalah keseimbangan. Semakin tidak seimbang maka kesuksesan akan menjadi semu. Oleh karena itu Aa Gym menyarankan bagi siapa saja yang ingin sukses, jagalah keseimbangan. “Marilah kita raih dengan Tuhan kita baik, dengan sesama kita baik, dan dengan keluarga juga baik. Keseimbangan inilah yang bisa membuat kesuksesan kita menjadi langgeng,” ajak Aa Gym.

Anindya Noverdian Bakrie, Presdir Anteve
Luangkan Waktu Satu Jam Untuk Mengaji
Muda, Tampan, dan Kaya. Merupakan penggambaran sempurna bagi seorang Anindya Noverdian Bakrie. Bahkan di usianya yang belum genap 35 tahun ia telah mampu mamimpin dua perusahaan besar yaitu Anteve dan Bakrie telekom. Namun, berbeda dengan kebanyakan pria seusianya, Anin- demikian sapaan karibnya- telah mampu meramu keseimbangan antar dunia bisnis yang ia geluti dan religinya. Seperti apa kiprahnya?

Pagi menjadi waktu spesial bagi Anin. Setelah menjalankan kewajibannya selaku muslim bersama sang istri, Pria kelahiran 10 November 1974 ini akan melanjutkan ritualnya berolahraga. Tangisan kedua putrinya menjadi pertanda bahwa ia harus cepat-cepat merampungkan kegiatannya tersebut dan mengalihkan perhatian pada Alisha dan Azra, dua putri hasil pernikahannya dengan Firdiani. Kegiatanpun akan berlanjut ke meja makan. Dan tepat setengah sembilan pagi, Anin telah siap di kantornya. Dan rapat demi rapat akan mewarnai kegiatan Anin sehari-hari. Namun jangan heran jika setiap Jumat Bos Anteve ini dan Bakrie Telekom ini tidak akan keluar ruangannya paling tidak selama satu jam menjelang shalat jumat. Sebab di sela-sela kesibukannya pria berkacamata ini selalu menyempatkan diri untuk mengaji dan berdzikir kepada Tuhan.
    
Bukan tanpa proses jika Anin menjadi pengusaha yang getol beribadah. Peran keluarga diakui sebagai faktor paling berpengaruh baginya. “Kebetulan saya dilahirkan di keluarga yang Islamnya cukup kental dan tergolong konservatif yang menganggap agama sebagai suatu hal yang sangat penting” jelasnya. Oleh karena itu tidak heran jika sejak kecil ia telah dibiasakan mengenal agama. Dan sebagai keluarga besar Anin mempunyai waktu khusus untuk diuji kegiatan religinya. “Biasanya saat ramadhan pas buka puasa bersama,” jelasnya. Menurut pria yang menyelesaikan M.B.A di Stanford, California ini, saat-saat itu adalah waktu yang paling menegangkan karena ia dan saudara-saudaranya akan ditanya satu persatu tentang prestasi puasa yang telah dilaksanakan dan sang kakek- sebagai kepala penguji- akan mendata siapa saja dari cucu-cucunya yang berhasil menutup puasanya dengan sempurna. Rasa bangga tentu saja akan dirasakan saat ia menjadi salah satu cucu yang mampu menyelesaikan puasa dengan baik.
    
Mendapatkan Pencerahan. Kenangan tentang masa kecil itu terus melekat diingatannya hingga pria yang aktif di PB FORKI (Federasi Olah Raga Karate-Do Indonesia) itu mengaku pertama kali mengenal Tuhan saat usianya 14 tahun. Saat itu sang ayah mengajaknya ikut melakukan ibadah haji. Meskipun masih tidak begitu paham atas apa yang dilakukannya. Tetapi dia merasa kalau disanalah ia mendapatkan pencerahan atas penetahuannya terhadap Tuhan. “Saya berfikir tentang kebenaran yang di bawa Muhammad yang bisa-bisanya mengenalkan Al Quran yang isinya tidak hanya indah tetapi juga diikuti oleh semua orang di dunia. Saat itu saya berfikir kalau Al Quran itu bukan buatan manusia tetapi buatan Tuhan sebagai suatu kebenaran,” ucap Anin. Dan karena itu pula yang menyebabkan putra pasangan Aburizal Bakrie dan Tatty Murnitriati ini memiliki satu tekad yang kuat untuk kembali suatu hari nanti ke Mekkah dengan pengetahuan yang lebih matang tentunya.
    
Kematangan emosi sebagai manfaat dari keteguhannya mengamalkan ajaran dan nilai-nilai Islam itulah yang ia terapkan di tempat kerjanya saat ia mendapatkan kepercayaan memimpin perusahaan dari sang ayah. Wujudnya bermacam-macam. Salah satunya ia selalu mengajak karyawannya untuk memakmurkan masjid terutam saat shalat Jumat. Jiwa kedermawanan Aninpun terasah saat ia menjadi orang nomor satu di  di kantor. Anin selalu saja rajin mengadakan bakti sosial saat dia mengeluarkan atau mendirikan cabang baru dan terus menjadi donor untuk kegiatan amalnya bagi kaum papa. Oleh karenanya didirikanlah yayasan Bakrie perduli. Sementara itu secara pribadi Anin juga sering melakukan syukuran atas rezeki yang telah didapatkannya dengan menggelar makan bersama anak-anak yatim. “Dengan begitu kita akan selalu diingatkan untuk bersyukur,” jelasnya.
    
Manfaat yang paling ia rasakan dari sikap religiusitasnya adalah ketika ia dan keluarganya dihantam krisis moneter tahun 1997 sampai dengan tahun 2001. Saat itu bukan finansial yang ia pikirkan tetapi cercaan masyarakat yang ditujukan kepada keluarganya karena dianggap menghancurkan ekonomi bangsa.  Tetapi dengan kesabaran dan ketahanan yang di miliki Anin mampu melewati ujian dan akhirnya sedikit demi sedikit kepercayaan masyarakat itu datang padanya. Meskipun tentu saja tidak semudah seperti apa yang ia harapkan.
Didik Anak lewat Shalat
Bagi Anin, anak adalah amanah yang wajib dijaga. Karena itu ia selalu menrapkan disiplin yang ketat bagi kedua buah hatinya tersebut. Meskipun usia keduanya masih sangat belia. “Saya sudah biasakan kedua anak saya ikut shalat walaupun yang seharusnya empet rakaat cuma jadi dua rakaat atau walaupun mereka cuma berlari-lari di tempat shalat. Tapi pengenalan terhadap agama ini yang sangat penting,” paparnya. Salah satu cita-cita yang dia inginkan adalah menjadikan kedua buah hatinya menjadi manusia solehah yang cerdas secara agama dan juga pendidikan. Karenanya, ia telah merancang model pendidikan yang terbaik bagi kedua belahan jiwanya kelak.

Henry Yosodiningrat SH, Pengacara
Menemukan Tuhan Ketika Dipenjara
Profesinya sebagai pengacara tentu saja membuat Henry Yosodiningrat SH akrab dengan Lembaga Pemasyarakatan (LP), terlebih pekerjaan tersebut sudah dilakoninya selama 27 tahun. Tetapi bukan itu yang membuatnya akrab dengan terali besi, melainkan Henry sendiri pernah merasakan segala ketidaknyamanan hidup didalam penjara. Apa yang dipetiknya?

Tahun 1984, dalam perjalanan pulang dari Pengadilan Negeri (PN) Kalianda, Lampung Selatan dimana ia sedang membela salah seorang kliennya yang berpekara di sana, kendaraan yang dikemudikan Henry mengalami kecelakaan hingga menyebabkan satu orang korban tewas. Hari-hari berikutnya adalah masa penuh frustasi bagi advokat yang mengawali karirnya di Jakarta pada tahun 1982 ini. Dalam putusannya Majelis Hakim PN Kalianda menjatuhkan vonis pidana dua tahun penjara bagi Pimpinan Kantor Pengacara Henry Yosodiningrat & Rekan ini.
    
Henry kecil dibesarkan dengan cara-cara Islam oleh kedua orangtuanya, bahkan ketika harus melanjutkan pendidikannya ke jenjang Perguruan Tinggi, Henry memilih Iniversitas Islam Indonesia (UII) Yogjakarta sebagai tempatnya menimba ilmu. “Di sana kan relatif lebih banyak muatan ilmu agama Islamnya dibanding kampus-kampus lain,” ujar pengacara terkenal yang kini tengah giat memerangi peredaran narkoba lewat Granat, organisasi massa yang dipimpinnya.
    
Musibah tahun 1984 yang membuatnya harus mendekam dalam penjara, diakui Henry membuat dirinya mempertanyakan keadilan Tuhan. Tanpa disadari, hal itu menjauhkannya dari sang Mahakuasa. Dalam kondisi batin goncang itulah Henry menemukan kembali keyakinannya yang sempat memudar. Awalnya Henry berniat menitipkan anak dan istrinya kepada sang kakak selama dirinya dipenjara. Tanpa disangka, sang kakak menolak permintaannya. Waktu itu sang kakak khawatir tidak bisa melindungi keselamatan anak dan istri Henry. Maklum saat itu Henry sudah terkenal sebagai pengacara yang vokal, Henry sering mengadvokasi kasus-kasus pembebasan tanah, satu hal yang langka dilakukan advokat zaman Orde Baru. Mendapat penolakan itu, alih-alih merasa tertimpa tangga, Henry justru seperti menemukan pencerahan dalam hidupnya. “Titipkanlah hanya kepada Allah SWT, karena hanya Dialah yang Mahapenjaga dan Mahamelindungi,” nasihat sang kakak.
    
Sejak saat itu, keyakinan terhadap sang Khalik bagi Henry adalah harga mati, tak bisa ditawar-tawar. Namun Henry mengakui jika perjalanan spiritualnya mengalami masa pasang surut.
    
Sakit Kepala Menahun Sembuh di Arafah. Lebih lanjut Henry mengatakan, upaya-upaya yang dilakukan untuk menjaga agar spiritualnya tetap stabil adalah dengan cara rajin membaca tafsir Al Quran dan kumpulan hadis, “Apabila kamu mendatangi seseorang dan kemudian menanyakan satu hal yang belum pasti jawabannya, dan kemudian kamu pulang serta mepercayainya, maka hukumnya adalah syirik.” Dari hadis tersebut Henry mendapatkan pemahaman bahwa dirinya sebagai muslim tidak perlu percaya pada takhayul, kecuali hanya kepada Allah.
    
Keyakinannya ini pula yang memberikan pengalaman tak ternilai harganya ketika ia menunaikan ibadah haji. Ketika wukuf di Arafah, Henry merasakan lantai tempat ia bersujud terasa begitu dingin menyentuh dahi dan wajahnya, hingga sakit kepala manahun yang dideritanya sembuh sampai hari ini.
    
Namun demikian menjadi profesional di kota besar seperti Jakarta, diakui Henry menimbulkan banyak stres. Jika sudah sampai puncaknya, bukan lagi sakit fisik yang diderita, melainkan jiwa akan merasa hampa dan kosong. Dari sanalah kecenderungan terjadinya pencarian Tuhan oleh para profesional dan eksekutif di perkotaan, lewat aktivitas-aktivitas spiritual baik yang dilakukan secara kolektif maupun sendiri-sendiri. Menurut Henry kecenderungan pencarian Tuhan seperti itu adalah hal yang baik, walaupun bagi Henry hal ini belum diperlukan. “Kalau saya merasa belum perlu, soalnya alhamdulillah saya nggak pernah sampai pada titik kosong,” syukurnya.    

Henry: “Kalau kamu malu, papa bisa ganti profesi”
Terlepas dari pandangan sebagian masyarakat yang menganggap advokat adalah profesi yang bergelimang dosa, bagi Henry justru advokat adalah profesi terhormat. Henry berprinsip, dirinya dan kantor pengacara yang dipimpinnya tidak akan pernah mau menerima order dari klien yang jelas-jelas bersalah. “Kalau dia saja sudah mengaku bersalah, bagaimana kita mau bela dia?” tegasnya. Dengan begitu Henry nyaris tidak pernah memiliki conflict of interest dalam menangani suatu kasus.
    Namun bukan berarti karirnya sebagai advokat yang dijalani sejak 1978 ini tanpa masalah.
    Ketika menangani kasus Ari Hanggara misalnya, salah seorang anaknya merasa malu kepada teman-temannya karena ayahnya menjadi pengacara terdakwa dalam kasus itu. Kemudian Henry menjelaskan kepada anaknya yang saat itu masih kecil, bahwa yang dirinya lakukan dengan menjadi pengacara terdakwa kasus Ari Hanggara adalah membantu terdakwa mendapatkan keadilan. “Tapi jika kalian malu punya papa kerja jadi pengacara dan mau papa berhenti, papa bisa ganti profesi,” demikian Henry menirukan ucapannya pada anaknya.

Bambang Hary Iswanto Tanoesudibjo,MBA (Hary Tanoe),
Pemilik dan CEO PT Bimantara Citra Tbk
  Anak Lelaki yang Ditunggu-tunggu, Akhirnya Diberikan Tuhan
Nabi Ibrahim puluhan tahun tidak dikaruniai anak, tetapi akhirnya Tuhan mengabulkan doanya. Bos grup Bimantara ini memang sudah diberkati beberapa anak perempuan, namun ia masih berharap mempunyai anak lelaki. Setelah melakukan wisata ziarah, ‘mukjizat’ yang dipintanya pun turun.

Sebagai pucuk pimpinan perusahaan, sudah pasti pekerjaannya senantiasa berpacu dengan waktu. Begitulah rutinitas sehari-hari yang dialami oleh Hary Tanoesudibjo atau biasa dipanggil Hary Tanoe. Pria murah senyum yang selama ini juga dikenal sebagai pemilik dari beberapa perusahaan media ini ternyata pernah mengalami mukjizat yang sangat besar untuk dia dan juga keluarganya: memiliki seorang putra.
    
Berawal dari perjalanan wisata rohani biasa, tetapi justru membawa “oleh-oleh” yang sangat indah. Sekitar tahun 2000, Hary dan istri mengadakan perjalanan ke Betlehem dalam rangka wisata ziarah bersama rombongan gerejanya untuk melihat-lihat peninggalan sejarah. Ketika sampai di Betlehem, tempat kelahiran Yesus, pasangan suami istri ini juga meminta dan memohon kepada Tuhan untuk segala harapan dan cita-citanya, yakni bisa memiliki anak laki-laki.

“Sepulangnya dari sana, istri saya mengandung dan tepat sembilan bulan kemudian, pada Juli 2001, istri saya melahirkan seorang bayi laki-laki. Saya sungguh bersyukur sekali atas berkat Tuhan ini. Sebelumnya anak saya empat orang dan perempuan semua,” papar Hary saat dihubungi melalui telepon genggamnya.

Ternyata mukjizat yang Hary dapatkan bukan hanya mendapatkan anak laki-laki saja. Pria kelahiran Surabaya 26 September 1965 ini juga mendapatkan berkat Tuhan yang lain yaitu perjalanan bisnisnya yang tanpa diduga berkembang sangat cepat dan pesat. “Pada saat di Betlehem itu saya juga memohon bimbingan kepada Tuhan Yesus untuk karir dan juga bisnis yang sedang saya jalankan,” ujar hary.

Doanya kembali terkabulkan. Sepulang dari perjalanan wisata rohani tersebut, sekitar tahun 2001 Hary berhasil melebarkan sayap bisnisnya dengan berhasil mengambilalih SCTV (saat ini SCTV sudah dijual ke phak lain,red) yang kemudian diikuti kiprahnya dengan membeli kelompok Bimantara dari bambang tri Hatmodjo, mendirikan kelompok usaha Media Nusantara Citra (MNC) yang membawahi beberapa media elektronik dan cetak. Padahal tadinya bisnis inti yang ditekuninya saat itu hanya sektor keuangan saja lewat PT Bakti Investama Tbk.
    
Krisis Moneter Jadi Lebih Dekat Kepadanya. Pria yang pernah menimba ilmu di sekolah Katholik ini mengakui proses mulai mencari Tuhan dengan lebih sungguh-sungguh adalah ketika dia masih kuliah di Kanada, mulai yahun 1988. “Pada saat kuliah itu ya say jadi lebih rajin ke gereja saja. Tapi kalau proses yang lebih mendalam lagi adalah ketika krisis moneter tahun 1998 lalu,” cerita Hary.
    
Pria yang mempunyai filosofi VIP (Vision, Integrity, Persistence) ini percaya bahwa setiap yang dialami dalam hidupnya adalah karena campur tangan Tuhan. “Waktunya Tuhan bukan waktu kita, semua indah pada waktuNYA.”
    
“Kita bangun tidur itu semua karena Tuhan. Kita bisa bekerja itu karena Tuhan. Kita bisa berkembang itu juga karena campur tangan Tuhan. Itulah yang harusnya ita sadari. Jadi setiap hari  adalah mukjizat tersendiri buat saya,” tutup hary.
    
Dan kini ketika bisnisnya makin berkembang, cobaan dan fitnah pun datang silih berganti menghampirinya. Namun dengan kepercayaan dan kepasrahan seperti yang selama ini dilakukan, Hary pun akhirnya bisa keluar dari berbagai fitnah yang menghantamnya.
    
Untuk mengingat dan selalu bersyukur kepada Tuhan keluarga Hary setiap hari selalu mengadakan doa keluarga. Dengan doa itulah Hary merasa selalu bisa menghadapi masalah yang datang. Apalagi istrinya yang cantik Lily Tanudjaya adalah seorang yang sangat religius dan selalu percaya akan kekuatan Doa.

Putu Djagra Sutha, Direktur PT Humpuss  
Tuhan Datang Lewat mukjizat-Nya
“Apa yang ditanam itulah yang dipetik.” Ajaran Hindu itu melekat di dalam sosok Putu Djagra Sutha, Direktur PT Humpuss dalam berperilaku. Tak heran, meski mengaku sebagai “orang biasa saja” namun lelaki kelahiran 16 Januari 1960 ini sering mendapat mukjizat Tuhan. Bagaimana kisahnya?

Pagi masih menyelimuti kawasan Radio Dalam maklum, jarum jam baru menunjukkan pukul enam pagi. Tidak seperti biasa, di salah satu rumah tampak seorang pria berjalan mondar-mandir, sesekali matanya melirik handphone berharap seseorang akan menelponnya. Ya, lelaki itu adalah Putu Djagra Sutha, Direktur PT humpuss. Saat itu tahun 1990, ceritanya sebagai direktur keuangan PT Sekar Artha Sentosa, Putu dipercaya menangani penandatanganan akad kredit dengan BTN (Bank Tabungan Negara). Tetapi sehari sebelum hari-H ia diberi tahu bahwa penandatanganan tidak dapat dilaksanakan sebab dewan direksi BTN dan Menteri Keuangan harus mendampingi Presiden soeharto melakukan kunjungan di Batam. Padahal jika penandatanganan tidak terjadi maka proyek batal demi hukum.
    
“Wah, bayangin dong kalau itu terjadi maka kerja selama berbulan-bulan sia-sia begitu saja,” Putu menerawang. Dalam keadaan bingung tersebut Putu menitipkan nomor handphone-nya kepada sekretaris Direksi BTN. Dia sangat berharap Tuhan mau memberikan mukjizat kepadanya. “Bahkan saya sempat bilang. Tuhan bagaimana ya, kok cobaan saya berat seperti ini. Padahal ini kan kerja saya yang pertama sebagai direktur keuangan,” doanya. Rupanya Tuhan mendengar doanya. Pada hari-H tersebut, feeling Putu menyuruhnya bangun sangat pagi, dan langsung berdandan rapi, sesuatu yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Dan benar saja, beberapa saat kemudian sekretaris direksi BTN meneleponnya untuk melakukan penandatanganan, sebab tiba-tiba saja kunjungan ke Batam ditunda hingga siang hari.
    
Sejak saat itu, Putu semakin meyakini keberadaan Tuhan dalam hidupnya. Sebab selama ini ternyata Tuhan telah memberikan begitu banyak mukjizat yang kadang tak tampak oleh matanya. “Kayak waktu zaman kuliah dulu, padahal saya itu bukan orang yang pintar. Nilai saya selalu biasa saja. Tetapi saya bisa lulus tepat waktu bareng dengan teman-teman jenius yang lain. Bahkan saya juga tidak mengalami kesulitan saat saya ingin bekerja,” papar lulusan Akuntansi FE UI ini bangga.
    
Tak heran, sejak pengalamannya itu, Putu lebih banyak bersyukur kepada Tuhan terhadap segala nikmat yang telah diberikan kepadanya. Demikian pula dalam masalah pekerjaannya. Lelaki yang lebih senang berada di balik layar ini selalu memohon kepada Tuhan agar dalam setiap proyek diberikan petunjuk mana yang baik dan mana yang buruk.
    
Sebagai timbal balik atas pemberian Tuhan kepadanya, Putu selalu menejawantahkan kasih tuhan kepada sesamanya. Sebab ia menyadari betul bahwa tidak semua orang mendapatkan keberuntungan seperti dirinya. Rasa berbagi selalu dia tanamkan kepada orang-orang di sekitarnya. Terutama kepada para pembantu, sopir, dan karyawan di tempatnya bekerja. “Sebab saya percaya sepenuhnya kepada karmapala,” tuturnya. Sementara, sikap religi ia tunjukkan juga kepada Tuhan setiap pagi. “Sebenarnya ada tiga waktu dalam Hindu untuk berdoa yaitu pagi, siang, dan malam tetapi saya lebih merasa dekat dan lebih bisa khusyuk saat pagi,” jelas pria ramah ini.
    
Cara lain untuk meraih kedamaiannya dengan Tuhan adalah selalu menyerahkan masalah kepada Tuhan apapun itu bentuknya. “Saya selalu kembali kepada Yahwe Weda,” kata Putu. Sebab, menurutnya dengan mencari kepada sumbernya secara langsung maka rasa puas akan tercapai. “Sebab tuhan memiliki semua jawaban atas segala pertanyaan,” tambahnya.

Siti Hartati Murdaya, Presiden Direktur Grup Central Cipta Murdaya
Bisnis Sebagai Lahan Praktik Agama
Sejak kecil kehidupan Presdir Grup Central Cipta Murdaya ini memang dekat dengan kegiatan keagamaan. Kedua orang tuanya yang sibuk tak membuat Siti Hartati Murdaya tak mengenal agamanya. Sang nenek selalu hadir dalam memberi jawaban atas semua pertanyaan religiusnya dan senantiasa menanamkan nilai-nilai keagamaan pada dirinya.

Mendalami agama dan rajin pergi ke Vihara membuatnya mempunyai idealisme tentang banyak hal, termasuk seperti bagaimana bersikap welas asih pada sesama. Tak heran ia pun akhirnya mau menerima ajaran Bhante untuk bergabung dengan Perwalian Umat Buddha Indonesia (Walubi) dan ikut masuk ke dalam kepengurusan sampai akhirnya menjadi Ketua Umum Walubi.
    
Menurut Hartati, bila manusia tidak mempunyai religi, diibaratkan seperti manusia yang tidak memiliki jiwa atau sebaliknya berjiwa tapi tak berjasad. “Jadi religi itu adalah tenang dari jiwa kita ke badan kita” tutur alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Trisakti Jakarta ini.
    
Dibesarkan oleh nenek yang selalu memberi pengarahan dan mengajaknya ke Vihara ternyata membuat wanita kelahiran 29 Agustus 1946 ini juga menularkan kepada ke empat anaknya. “Mereka pun rajin ke Vihara karena sudah dibiasakan,” jelasnya singkat.
    
Untuk ritual, Hartati mengaku melakukannya semaksimal mungkin. Bahkan anggota Fraksi Utusan golongan MPR RI ini merasa tidak boleh lengah setiap menit, setiap detik, untuk selalu berada di dalam kesadaran yang diajarkan oleh kitab suci, sehingga dapat menjiwai setiap gerak dan langkah hidupnya, Baik sebagai ibu, ketua umum atau seorang presiden direktur. Anak sulung dari tujuh bersaudara ini juga mengaku turut mengajak para pengusaha Budhis untuk berpartisipasi untuk berbuat cinta kasih kepada sesama mansia seperti yang diajarkan Buddha.
    
Giatnya menggali ilmu keagamaan membuat ibu empat anak ini berguru dengan banyak bhiksu. “Bhiksu pertama saya adalah Bhiksu Jinaputta. Setelah beliau wafat saya berguru kepada Narada Mahatera dari Srilangka dan terakhir pada Bhiksu Narada Mahatera,” jelas wanita yang mempunyai hobi memasak dan menjahit ini. Kedekatannya pada sang Buddha membuat wanita vegetarian ini juga sempat mendalami agama sampai Srilangka.
    
Bersama dengan Walubi ia pun membangun tempat peribadahan seperti Vihara Buddha, perpustakaan Nerada dan vihara Mendut. Hartati menjelaskan nama dari Vihara Nerada diambil dari Bhikku Nerada yang mengajarkannya aliran Mahayana. “Tapi saya juga mempelajari aliran Teravada juga,” belanya.
    
Aktivitas di bidang keagamaan ini pun menjadi awal langkah Hartati dalam menapaki dunia bisnis. Alasannya, ia ingin mengaplikasikan ilmu-ilmu agamanya dalam kehidupan sehari-hari. “Tak ada gunanya kalau cuma pengetahuan tanpa perbuatan nyata. Bisnis saya anggap sebagai lahan untuk mempraktekkan ilmu agama yang saya peroleh,” papar bos PT Jakarta International Expo yang telah membeli arena PRJ senilai Rp 1 triliun ini.

Ingin Jadi Bhikhuni, Malah Disuruh Pacaran
Besar dengan nenek yang sangat religius, membuat Hartati berkeinginan menjadi rohaniwati Budha. Pulang sekolah ia selalu pergi ke Vihara untuk mengaji, bermeditasi dan mengikuti ajaran guru agung Budha Gautama.
    “Waktu itu, kira-kira usia saya 20 tahun, dan ingin sekali menjadi bhisuni. Tetapi orang tua saya tidak setuju dan akhirnya saya malah diperkenalkan dengan para pemuda dan langsung dijodoh-jodohin lah,” kenang Hartati sambil mengulum senyum.
    Waktu itu ia  merasakan hidup ini hanya sementara, tidak ada yang kekal. Hartati juga melihat waktu yang dikejar manusia pada umumnya tidak ada apa-apanya. Mereka hanya mengejar harta dan tahta.
    Mendalami kitab suci dan hanya ingin melakukan perbuatan-perbuatan yang bisa membawa kebahagiaan sejati memang menjadi alasan utamanya ingin menjadi bhiksuni. Tapi ketika disinggung bagaimana jika salah satu dari ke empat anaknya menjadi rohaniwan Budha, wanita yang gemar makan gado-gado ini hanya tertawa pelan. Hartati menambahkan, baginya itu adalah pengalaman rohaninya yang paling dalam.

Eddy Gunawan, Direktur Utama Olympic
Penyuka Aa Gym yang Merasa Tenteram di Gereja             
Eddy Gunawan, Direktur Utama Olympic, percaya apapun yang terjadi dalam perjalanan hidupnya, baik karir, pribadi maupun rumah tangganya adalah berkat pertolongan-pertolongan Tuhan. Sejak 26 tahun yang lalu, pria pencinta batik ini memang sudah sangat akrab dengan kegiatan gereja. Apa yang melatarbelakanginya?

Saya kok merasa ada yang kurang, kalau tidak pergi ke gereja seminggu saja,” ujar Eddy Gunawan, Direktur Utama Olympic ketika ditanya tentang kehidupan religinya. Eddy sendiri mengaku kalau sejak 26 tahun yang lalu, dirinya intens pergi ke gereja dan aktif di kegiatan gereja. Saat ini, di gereja Santo Thomas Rasul, Eddy bahkan menjabat sebagai ketua lingkungan.
    
Burung-burung bul bul dengan warna sayap yang sama akan hinggap di dahan ranting yang sama. Peribahasa itulah yang kiranya melatarbelakangi kegemaran Eddy bergaul di gereja. Hingga menjadi CEO di sebuah perusahaan besar seperti Olympic pun , Eddy masih tetap bergaul dan berteman dengan para Romo, pastur bahkan para biarawan.
    
Seperti halnya para eksekutif lainnya yang berhasil menghindari stres dan fase-fase kosong yang kemudian punya kecenderungan mencari Tuhan, Eddy juga mengaku bisa melewati beratnya tekanan beban pekerjaan asalkan diimbangi dengan kegiatan-kegiatan spiritual. Bukan sebatas aktif di gereja, Eddy juga banyak melakukan kegiatan sosial serta rajin mendengarkan diraman rohani.
    
Mengidolakan Aa Gym. Yang sangat menarik, ketika PROSPEKTIF menanyakan siapa penceramah favoritnya, Eddy menjawab, penceramah favoritnya adalah Aa Gym, seorang D’ai kondang dari pesantren Da’arut tauhid Bandung, Jawa Barat. Menurut Eddy, kebiasaan mendengarkan ceramah Aa Gym ia dapatkan dari para pastur dan romo di gerejanya. “Suatu kali saya jalan-jalan ke toko kaset bareng para pastur dan romo di gereja saya, lho mereka kok pada beli kaset Aa Gym, ya sudah, saya ikutan,” cerita ayah berputra tiga ini.
    
Semenjak itulah ayah dengan tiga orang putra ini rajin menonton acara ceramah Aa Gym di televisi. “Saya merasa apa yang disampaikan oleh Aa Gym itu sangat sesuai untuk semua umat dengan agama apapun di dunia ini, sangat universal,” ujar Eddy memberikan alasan kenapa dirinya menyukai cermah-ceramah Aa Gym.
    
Lebih lanjut Eddy mengungkapkan keinginannya untuk mengundang Aa Gym berceramah di perusahaan yang dipimpinnya, namun karena ada beberapa kendala teknis, keinginan itu hingga kini belu terealisasi.

Ismi Kushartanto,Senior Vice President Head,Syariah Banking-Permata Bank Syariah
Bawa Suasana Religi dalam Lingkungan Kantor
Bekerja sambil beribadah, bukan hanya slogan. Bagi Ismi Kushartanto, Senior Vice President Head, Syariah Banking-Permata Bank Syariah, kata-kata itu memiliki kekuatan yang luar biasa. Tak heran jika ia keukeuh mengenalkan konsep itu di tempat kerjanya. Bagaimana kiprahnya?

Jarum jam menunjukkan angka tiga pagi. Sebagian manusia masih banyak yang merengkuh mimpi. Tapi tidak demikian halnya dengan Ismi Kushartanto, bapak tiga putri ini justru telah memulai aktivitas hariannya. Ya, setiap dini hari ia selalu menyempatkan diri melakukan ibadah malam dengan mengerjakan sholat Tahajud di rumahnya. Pekerjaan sebagai Senior Vice President Head, Syariah Banking di Bank Permata Syariah tidak membuatnya lupa akan kewajiban utamanya sebagai mahluk Tuhan. Padahal kegiatan yang sangat padat di kantor mengharuskannya untuk pulang di atas jam sepuluh malam. Apalagi mengingat jarak kantor dan rumah yang harus ditempuh dalam waktu satu jam sering membuatnya “KO” begitu mobilnya sampai di halaman parkir rumahnya. “Jadi kerjaan saya itu biasanya berangkat tanggal enam pulang tanggal tujuh. Karena biasanya sampai rumah sudah tengah malam,” kelakarnya. Tetapi justru Ismi merasa sangat beruntung dengan jadwal kerjanya itu, sebab karena tengah malam itulah ia  mempunyai kesempatan untuk melaksanakan ibadah malam sebelum akhirnya terlelap kembali hingga pagi.
    
Kebiasaan beribadah tidak hanya dikerjakan di dalam rumah. Tetapi ia terapkan pula di lingkungan kerja. Meskipun pada awalnya ada rasa canggung saat membawa kebiasaan di kantor lamanya ke permata bank tetapi akhirnya ide religi itu pula dapat diterima. Maka tak heran jika setiap pagi sebelum memulai aktivitas kerja, para karyawan akan keluar dari ruangan untuk melakukan doa bersama. Setelah itu ritual akan dilanjutkan dengan sharing tentang segala macam hal khususnya masukan yang dapat membawa kebaikan bagi Permata Bank. “Hal ini ternyata efektif karena mampu menumbuhkan jiwa kebersamaan antar karyawan,” kata Ismi. Selain doa bersama, Pria kelahiran Purworejo, 26 Agustus 1959 ini juga mengadakan kajian Islam yang dilaksanakan setiap bulan sekali pada hari selasa siang. Kegiatan religi itu tentu saja tidak terhenti hanya sampai disitu, sebab lulusan IPB itu juga gencar melakukan kegiatan amal baik melalui yayasan maupun lembaga zakat. Maka jangan heran jika dompetnya banyak terselip Kartu Zakat dan Amal. “Saya lebih suka yang praktis sebenarnya, makanya investasi saya ke akhirat lewat transfer zakat ini. Kalau ada rezeki saya tinggal transfer saja. Gampang kan?” jelasnya sembari menunjukkan beberapa kartu zakat miliknya.
    
Mukjizat Tuhan. Sementara, mukjizat Tuhan yang pernah dirasakan anak ke tujuh dari sembilan bersaudara itu saat dirinya dihadapkan pada masalah pekerjaan dan ibadah kepada Tuhan. Ceritanya pada tahun 1999 silam, Ismi dan Sri Heri, istrinya akan melakukan perjalanan haji yang sudah lama diidamkannya. Saat itu ia sempat dipanggil oleh sang atasan dan ditanya tentang kepastiannya berangkat ke Mekkah. “Waktu itu saya ditanya sudah bayar apa belum biaya hajinya. Saya pikir waktu itu akan dibayarin biayanya,” ucap Ismi. Ternyata bukannya mendapat keringanan, Ismi justru dilarang elakukan niatannya untuk berngkat haji. Pasalnya, di bank tempatnya bekerja sedang ada merger. Karenanya sang atasan khawatir jika sekembalinya dari ibadah haji, posisi yang diinginkan oleh Ismi akan terisi oleh orang lain. Namun dengan keyakinan yang kaut bahwa jika sudah jodoh tidak akan kemana, akhirnya Ismi berangkat menunaikan ibadah haji. Dan benar saja, posisi yang diinginkannya telah diisi orang lain. Namun Tuhan berencana lain, sebab setelah itu ia justru diangkat sebagai direktur pada Bank Syariah yang selama ini ia idam-idamkan. “Justru dengan keikhlasan ini Tuhan  memberikan kita lebih dari apa yang tadinya kita inginkan. Dan saya yakin sepenuhnya pada mukjizat Tuhan tersebut” jelasnya.

Muslim yang Sekolah di Tempat Katolik
Siapa sangka, jika pria yang terkenal sebagai muslim yang taat ini adalah mantan siswa katolik. Selidik puny selidik, anak ke tujuh adri sembilan bersaudara ini memang sengaja di sekolahkan pada sekola yang mempunyai disiplin tinggi. “Maklum, ayah saya itu kan tentara, jadi ya dia ingin anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang disiplinnya tinggi. Maka dimasukkanlah saya ke sekolah katolik,” ujar Ismi. Karibnya hubungan antara teman pada waktu itu membuatnya sering ikut rombongan teman-temannya yang akan melakukan kebaktian di gereja. “Maklum, namanya juga anak kecil, jadi saya senang saja kalau jalan ramai-ramai dengan mereka” urainya menerawang.

Sandiaga S.Uno, Direktur Utama PT Saratoga Investama Sedaya
Teladani Sifat Pedagang Nabi Muhammad
Keinginannya menciptakan pengusaha-pengusaha baru adalah suatu niat suci yang lahir dari dalam dirinya. Hal itu pun tidak terlepas dari sisi spiritual dari seorang Sandiaga Uno. Bagaimana ia menerapkan ajaran agamanya dalam membangun HIPMI dan Saratoga?

Seorang pria berpakaian batik terlihat berada di depan pintu rumah bernomor 18 di daerah kebayoran. Pria berkacamata tersebut tersenyum ketika menyambut kedatangan PROSPEKTIF ke rumahnya yang asri itu. Sandi Uno memang dsikenal sebagai sosok pria ramah dan murah senyum kepada siapa saja. Ketika ditemui di rumah orang tuanya itu, ia menceritakan bagaimana sisi kehidupan spiritualnya kepada PROSPEKTIF.
    
Ciptakan Empat Juta Pengusaha. Tak hanya berpenampilan rapi dan berwibawa, Sandi Uno juga menampakkan sisi spiritual yang bersahaja. Hal ini terlihat dari langkah-langkah yang telah ia lakukan baik untuk perusahaannya maupun bagi organisasi yang ia pimpin, HIPMI. Sandi, panggilan akrabnya, menargetkan hingga tahun 2008, tahun berakhirnya kepemimpinannya di HIPMI, dapat menciptakan empat juta pengusaha baru yang mampu mengisi iklim bisnis di Indonesia. “Kita juga ingin merekrut anggota sebanyak-banyaknya melalui proses di kampus,” ujar Sandi. Selain itu, ia juga menginginkan lahirnya cluster baru para pengusaha menengah dan besar yang akan memberi dampak positif bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sedangkan untuk perusahaannya, Saratoga Investama Sedaya, ia ingin menjalankan beberapa pekerjaan yang masih tertunda.
    
Tak cukup sampai di situ, untuk kehidupan pribadi, Sandi Uno menyadari betapa pentingnya sisi spiritual bagi kehidupan yang dijalaninya. “Saya pikir spiritual menjadi dasar mental bagi kehidupan saya,” aku Sandi. Sehingga ia menganggap bahwa apa yang telah ia dapatkan saat ini adalah titipan bagi dirinya. Dengan begitu, Sandi akan memperlakukan semua yang telah didapatnya, baik dari segi bisnis maupun keluarga, merupakan suatu refleksi bagi dirinya yang bersifat sementara. “Jadi kalau misalnya kita kalah berarti memang belum waktunya,” ujar pria berkulit putih ini.
    
Kerjasama dengan Aa Gym. Mengingat masa lalu, Sandi Uno mengaku bahwa ia memang mengenyam pendidikan di sekolah yang bukan sekolah Islam. Oleh karena itu, ia mendapatkan pelajaran agama Islam bukan berasal dari sekolah, melainkan dari lingkungan di luar sekolah, termasuk keluarga. Putra dari Mien Uno ini pun banyak belajar agama dari sang istri yang memang berasal dari keluarga yang islami. Sedangkan untuk penerapannya dalam kehidupan sehari-hari ia banyak meneladani sifat-sifat dari Nabi Muhammad, khususnya sifat pedagang yang berada di dalam diri Rasulullah. “Saya banyak sekali belajar dari Sunah Rasul sampai ke masalh dagangnya,” tutur Sandi. Seperti yang diakuinya profesi Nabi Muhammad yang merupakan pedagang meruipakan bahan pelajaran baginya untuk menjalankan bisnisnya kedepan.
    
Dengan landasan agama itulah, Sandi melakukan berbagai kegiatan yang tidak melulu berorientasi bisnis. Ia bersama HIPMI melakukan kerjasama dengan pesantren pimpinan Aa Gym dengan membentuk Pemuda Pelopor. Organisasi yang dibentuk di Bandung ini menjadi ajang Sandi untuk menelurkan pengusaha-pengusaha muda yang berlandaskan Islam. Perhatiannya terhadap para pengusaha muda juga membuatnya berempati terhadap pengusaha yang merintis usahanya dari nol dan mampu berkembang. “Saya ingin succes story seperti ini ditularkan lagi kepada pengusaha-pengusha yang sekarang,” ujar Sandi menutup pembicaraan.

Merasa Dikejar-kejar Jika Belum Shalat
Sebagai ketua HIPMI sekaligus sebagai pengusaha, tentu Sandi Uno sibuk. Ditambah lagi dengan seringnya ia bepergian ke luar kota dan luar negeri. Bahkan untuk melakukan ibadah shalat pun ia harus menjamaknya atau mengqodho shalat lima waktu ketika ia harus bepergian ke luar negeri. “Kalau belum sholat tuh kayak dikejar-kejar gitu,” aku Sandi. Oleh karena itu, ia tak segan-segan untuk menjalankan ibadah shalatnya dengan dijamak.
Begitu pula dengan kegiatan mengajinya. Sandi Uno menjadwalkan pengajiannya tiap Rabu malam di rumahnya. Ia mengundang guru ngaji dari Masjid At-Taqwa, masjid yang terletak di dekat rumahnya, untuk datang ke rumahnya dan mengajarkan tentang pengetahuan Islam. Selain itu, ia juga menjalankan tadarus Al Quran bersama dengan guru ngajinya tersebut. Dalam keluarganya sendiripun, Sandi mendidik anak-anaknya untuk dapat belajar agama dengan baik. Dengan pertimbangan tersebut, Sandi memasukkan anak-anaknya ke sekolah Al Azhar, dimana pendidikan agamanya dapat lebih terjamin.
Sandi juga mulai membiasakan anak-anaknya untuk dapat menjalankan ibadah Umrah bersama setiap kali liburan sekolah tiba. “Kita mulai dua tahun yang lalu mambiasakan setiap liburan sekolah untuk mengajak anak-anak saya untuk umrah,” tutur Sandi. Dengan  begitu, ia mulai mengajarkan pendidikan agama sejak dini kepada anak-anaknya, sehingga anak-anaknya tersebut dapat lebih mengerti dunia Islam. Sandi pun mendapatkan dukungan dari istri tercintanya dimana sang istri selalu mengingatkan Sandi untuk menjalankan ibadah puasa Senin-Kamis.

Andang Lukitomo – HR & GA. Division Head PT Argha Karya Prima Industri Tbk
Online Dengan Tuhan Setiap Saat
Umur 40-an kerap disebut sebagai masa pubertas kedua. Padahal krisis itu juga mendorong orang untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Bagaimana pengalaman spiritual Andang Lukito sendiri? Apa yang disebutnya sudah melewati fase merasa berdosa jika tidak shalat?

Berbicara soal agama, menurut pria lulusan psikologi UGM ini agama itu sifatnya sangat pribadi. Bahkan dikalangan orang yang sama agamanya pun tidak bisa dibandingkan. Sebagaimana diakuinya, bahwa tidak ada yang prioritas antara bekerja atau mencari Tuhan. Pemahamannya adalah dengan menjalani apa saja dengan niat tulus. “Pada saat kita bekerja, ya kita harus bekerja dengan sungguh-sungguh, tapi pada saat kita dipanggil untuk melakukan aktifitas agama kita ya kita juga harus dengan sungguh-sungguh,” tegas Andang.

Suami dari Herni ini mengaku sama seperti pemeluk agama Islam lainnya, tetap melakukan shalat lima waktu. Yang menarik, kurang lebih dua tahun terakhir Andang mengalami transformasi signifikan. “Dulu saya itu Islam KTP, shalat nggak pernah, tapi saya merasa hati saya itu mengakui, ada pengakuan terhadap agama. Keluarga saya berasal dari keluarga religius. Bapak saya pengurus Muhammadiyah,” tutur Andang sambil sesekali menghisap rokoknya.

Sambungnya lagi,”Kemudian saya melewati fase mendekat dengan agama. Ada fase kalau kita nggak shalat merasa berdosa. Tapi kemudian saya merasa lebih tenang. Perasaan takut, perasaan berdosa itu sudah lewat.”

Lewat padepokan. Pengenalan akan Tuhan secara signifikan ini bermula dari padepokan Thaha. Sebuah tempat pengajian yang awalnya kakak iparnya yang pergi kesana, lalu istrinya menyusul. Keduanya kembali dengan cerita serupa, bahwa suasananya sangat menyenangkan. Baru kemudian Andang datang ke pengajian tersebut.

“Disitulah titik balik pemahaman saya tentang agama, pemahaman saya tentang Tuhan, pemahaman bahwa spiritual itu bukan agama, spiritual itu adalah diri kita sesungguhnya,” papar pria kelahiran 25 Maret 1965 ini.

Andang mengutip guru spiritualnya, KH Rahmat, menjelaskan bahwa apapun yang dilakukan adalah jalan spiritual. Apapun yang dilakukan adalah ibadah, perjalanan rohani. “Shalat itu bukan kewajiban, shalat itu adalah kenikmatan. Sama dengan on-line internet 24 jam kita bisa lupa. Ketika shalat, kita on-line dengan Dia. Kalau kita bisa mencapai tahap demikian, jiwa kita merdeka,” ujar Andang.

Selain aktif di pengajian, Andang juga bergabung dalam komunitas keagamaan berupa mailing list, kelompok kajian alam semesta. Mereka sebulan sekali berdiskusi soal cinta, dosa, dll. “Tujuannya sih kita hanya ingin menyebarkan kesadaran tentang ketuhanan yang lebih baik. Jadi orang itu mengakui Tuhan bukan karena takut, tapi karena cinta,” tutupnya.

Muhammad Irfandi, Direktur Pemasaran PT Bank DKI
Kesehariannya Berteman Dengan Kaset Murotal
Di mobil, di kantor maupun di rumahnya, Muhammad Irfandi, Direktur Pemasaran PT Bank DKI selalu mendengarkan lantunan ayat-ayat suci Al-Quran lewat kaset. Diakui Irfandi, selain berpahala, semua itu mendatangkan semangat tersendiri baginya. Mengapa bisa demikian?

Ada satu ruitnitas penting yang selalu dilakukan Muhammad Irfandi, Direktur Pemasaran PT bank DKI jika memulai hari. Yaitu, shalat Subuh di Masjid dan Shalat Dhuha sebelum berangkat ke kantor. Dan kalaupun tidak sempat melakukan shalat Dhuha di rumah, tak jarang Irfandi melakukannya di kantor atau dimana ia bisa melakukan shalat.

Tidak hanya hablumminallah, hablumminannas juga sering dilakukan pria yang kerap disapa dengan nama Mola ini. Itulah yang membuat Mola selalu berusaha untuk dating ke kantor sepagi mungkin. “Saat ini ada aktifitas yang saya coba jadwalkan di sela-sela kesibukan saya,” kata Mola. “Momen tersebut saya gunakan untuk bertemu dengan teman- teman saya dalam rangka menjalin tali silaturahmi,” kata Mola lagi.

Tidak hanya itu, seminggu sekali Mola juga mengikuti acara pengajian di rumah temannya. “Pengajian itu dihadiri oleh teman-teman yang ada di beberapa instansi, baik yang dulunya ada di SMP, SMA atau dulunya ada di kuliah. Biasanya Malam Jumat. Kita panggil Ustadz, dan berdikusi tentang berbagai hal baik keagamaan, social maupun kehidupan sehari-hari,” Ucap Mola. “Sebulan sekali biasanya saya juga ikut pengajian di RISKA (Remaja Islam Sunda Kelapa) dan aktif di organisasi tersebut,” ucap Mola lagi.

Dengan banyaknya kegiatan keagamaan yang diikuti, Mola yakin bahwa hal itu memberikan keuntungan tersendiri baginya. Pasalanya, pada kesempatan-kesempatan tersebut tak jarang Mola juga bisa berdiskusi tentang bisnis dengan teman-temannya. Dan yang tak kalah pentingnya adalah terjalinnya tali silaturahmi yang erat diantara mereka. Selama ini Mola meyakini kalau silaturahmi itu sangat besar power-nya. “Menurut Hadits, silaturahmi bisa memperpanjang umur, murah rejeki, dan bisa membuat kita menjadi lebih sehat,” ujar Mola. “Karena itu saya coba menerapkannya pada kehidupan sehari-hari. Apalagi sayang Allah itu akan bertambah kalau kita melakukan silaturahmi,” tambahnya.

Monyet langgar (Mola). Asal tahu saja, nama Mola bukan sembarang nama panggilan bagi Irfandi. Nama tersebut ada sejarah tersendiri. Julukan yang diterimanya sejak masih di SMA itu adalah pemberian dari teman-temannya.

Ceritanya, bermula atas kesenangan Irfandi bersih-bersih di Mushalla (langgar). Saking seringnya ia berada di Mushalla (langgar), teman-temannya pun memberikan julukan kepadanya sebagai Monyet Langgar (Mola). Dan nama itu terus melekat sampai sekarang.

Mola yang lahir dan dibesarkan di Kampung Bali Tanah Abang merasa bersyukur bahwa ia tidak terjerumus pada perbuatan-perbuatan yang tidak baik. Karena kita semua tahu bahwa yang namanya Kampung Bali Tanah Abang itu adalah sarangnya peredaran narkoba dan obat-obatan terlarang lainnya. Namun atas didikan yang keras soal agama dari kjedua orang tuanya, Mola tidak terjerumus dan justru aktif di kegiatan-kegiatan keagamaan.

Lalu bagaimana cara Mola menularkan nuansa religi kepada bawahannya? “saya mencoba untuk menuntut diri saya sendiri,” jawab Mola. “caranya adalah saya selalu membuat patokan bahwa saya harus shalat tepat waktu dan di masjid. Dan yang kedua, saya minta di kantor ini setiap Adzan agar terdengar sampai ke dalam ruangan,” tambahnya.

Tidak hanya itu, sepanjang Mola berjalan dari kantor ke masjid, ia selalu mengajak semua orang untuk Shalat. “Kalau ada yang ngomong belum selesai pekerjaannya, maka saya akan bilang bahwa pekerjaan itu tidak ada habisnya. Sebab, Allah telah memerintahkan kita untuk Shalat tepat waktu. Kalau kita tepat waktu dan Dia senang, maka apa yang kita minta pasti akan diberikan,” tutup Mola.

Aries Muftie, Direktur PT Permodalan Nasional Madani
Ditegur Tuhan Karena Sombong
Kesombongan yang sempat dimiliki Aries Muftie, Direktur PT Permodalan Nasional Madani saat kuliah dulu tiada lagi. Yang ada hanyalah tawakal dean berserah diri. Apa yang membuat Aries kemudian berubah?

Sifat sombong dan takabur memang terkadang justru membawa petaka bagi seseorang. Hal itu pernah dialami oleh Aries Muftie, Direktur PT Permodalan Nasional Madani. Pria yang saat ini juga menjabat Tenaga Ahli Kementrian BUMN ini mengaku kalau saat kuliah dahulu ia pernah dikuasai rasa sombong. Saat itu karena bisa menimba ilmu di dua buah universitas ternama yaitu Universitas Indonesia dan Institut Teknologi Bandung, Aries merasa orang yang top, pinter, the best, dan tahu segalanya.
    
Ternyata kesombongan Aries, berbuah bencana. Tiba-tiba saja di tahun kedua, Aries dinyatakan gagal. Aries yang sejak kecil selalu merasa bahagia dan juga telah di didik untuk selalu menjalankan perintah Allah dengan cara rajin berpuasa Senin Kamis dan juga rajin melakukan shalat Tahajud, merasa syok dan menyalahkan orang lain, bahkan Tuhannya. Namun Aries akhirnya segera tersadar dan mulai melakukan introspeksi diri atas kesombongannya. “Pasca kegagalan tersebut, saya membaca buku Agus Salim waktu saya di salman (ITB). Saya belajar pada Ustadz Imadudin. Pada saat yang bersamaan saya juga membaca buku mengenai takdir, tawakal, dan nasib. Di situlah saya menemukan pencerahan, bahwa nasib kita itu ya kita yang memilih sendiri, Tuhan hanya menyediakan pilihan,” urai Aries. “Dan hal lainnya yang saya pelajari adalah, untuk bahagia di dunia dan akhirat, kita harus mengikuti sunatulloh yaitu asmaul husna,” tambah Aries.
     
Saat itu dianggap Aries sebagai saat turning point-nya terhadap keberadaan Tuhan sang pencipta. Dan semua itu menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi seorang Aries Muftie. Bagi Aries, hidup di muka bumi ini, manusia hanya mempunyai dua tugas utama. Pertama, taqwa kepada Tuhan dan yang kedua adalah selalu berbuat kebajikan. “Karena jika kita tidak berbuat kebajikan maka kita akan kafir. Kebajikan itu adalah ketika kita ada tidak menjadi gangguan bagi orang lain dan lingkungan, tetapi justru sebaliknya yaitu bermanfaat untuk orang lain,” papar Aries.
    
Godspot. Aries memang dibesarkan di lingkungan keluarga yang sangat religius dan intelektual. Bahkan Pria kelahiran Garut, 17 April 1955 ini mengaku kalau leluhurnya memiliki pesantren Nahdhatul Ulama di Cibatu, Garut, Jawa Barat.
    
Ditanya soal agama, Aries berpendapat kalau pada dasarnya semua manusia lahir dalam keadaan suc(fitrah). Dengan demikian, di dalam hati setiap manusia di agama manapun pasti memiliki yang namanya godspot (sifat-sifat Allah). Contohnya, seorang ibu menyusui anaknya sebagai bentuk kasih sayang. Itu salah satu sifat Allah yang Maha Penyayang.
    
Hanya saja karena rutinitas kehidupan kita, maka godspot itu tertutup dan ketika sampai pada titik nadir dengan cara musibah, baik terhadap keluarga maupun karir, godspot ini muncul. Diakui Aries, biasanya berangkat dari kegagalan baik di keluarga ataupun bisnis, membuat manusia merasa kecil, hampa, dan kosong. Mereka pun kemudian lari ke kelompok-kelompok pengajian, gereja, dan di komunitas tersebutlah mereka akan mendapatkan pencerahan dengan cara yang berbeda. “Makanya kemudian timbul Aa gym, Ary Ginandjar, Ustad Jalaludin, Arifin Ilham, dan sebagainya. Di sana mereka berhasil disentuh godspot-nya. Melihat banyak orang-orang yang hidupnya lebih susah, akhirnya timbullah kesalehan-kesalehan sosial,” papar Aries.
    
Diakui Aries, kadar keimanannya terkadang naik dan turun. Untuk mengatasinya Aries mengikuti berbagai kegiatan secara intens seperti Emotional Spiritual Question (ESQ) pimpinan Ary Ginandjar dan Manajemen Qalbu (MQ) pimpinan Aa Gym. “Recharge juga biasa saya lakukan dengan cara shalat malam,” tutup Aries.

Ir. Budiman,MSIE – Head of Corporate Marketing dan Sekretaris Umum MBI
Bekerja Sambil Melakukan Diskusi Agama Saat Keliling Daerah
Meski sudah menyandang jabatan sebagai Head of Corporate Marketing yang membawa banyak tanggung jawab dan menyita waktunya, pria berputra satu ini masih menyibukkan dirinya dalam organisasi keagamaan. Apa alasannya?

Perjalanan karir Budiman dalam dunia kerja boleh dibilang cukup panjang. Sejak 1996 dia sudah bergabung di garuda Food sebagai staf marketing. Kini ia sudah mencapai posisi tertinggi dalam divisi marketing. Tentu itu dicapai dengan kerja keras. Namun menurut pria lulusan ITB ini, apa yng dicapainya kini itu juga karena karma. Dalam agama Buddha berlaku hukum Karma, apa yang ditabur itulah yang akan dituai. “Agama Buddha yang saya anut sekarang adalah termasuk pencarian jati diri saya yang cukup lama.” tutur Budiman dengan suara dalam.
    
Mengenal agama Buddha. Pencarian jati diri dalam konteks religi yang dilakukan pria kelahiran Medan 18 Juli 1970 ini dimulai justru saat jauh dari orang tua. “Entah kenapa saya jadi dekat sama Tuhan. Mungkin karena semakin dewasa dan ingin mencari tahu banyak hal,” senyum Budiman. Tambahnya lagi, “Saya ini orang yang sangat mengandalkan logika. Aspek kognitif saya tinggi, jadi semua ingin saya ketahui.”

Pertama kali Budiman mengenal agama Buddha adalah saat kuliah dia harus memilih pelajaran agama, dipilihlah agama Buddha.

Dalam pencarian jati diri, ia tidak lewat sosok guru tertentu. “Saya senang membaca dan itulah yang mewarnai impresi pertama saya terhadap agama Buddha. Meski banyak metode pendekatannya tapi saya meyakini bahwa sebenarnya platformnya satu,” ujar pria yang kini tengah ditinggal istrinya untuk sekolah bahasa ke Cina.

Organisasi Religi. Pada saat kuliah budiman juga sudah mulai aktif terlibat dalam organisasi keagamaan, yakni Majelis Buddhayana Indonesia (MBI), yang notabene adalah organisasi agama Buddha yang pertama kali ada di Indonesia. Organisasi tersebut didirikan oleh seorang Bhiksu Ashin Jinerekkhita, yang sekaligus menjadi guru spiritual Budiman saat dia pertama kali mencoba memahami ajaran Buddha ini.
    
“Saya bergabung sekitar tahun 90-an ketika saya menjadi mahasiswa, jadi pas proses pencarian itu saya mulai memahami kemudain mencoba berada di lingkungan organisasi tersebut,” jelas Budiman. Lalu tahun 1993 Budiman terpilih menjadi Ketua Pemuda Buddha Seluruh Indonesia, akhirnya sekarang menjabat sebagai Sekretaris Umum MBI.
    
Pekerjaannya sebagai marketing dengan berkeliling ke daerah-daerah sekaligus digunakan oleh Budiman untuk mengunjungi umat Buddha yang ada di daerah tersebut. “MBI sudah ada cabang di 23 provinsi, dan biasanya saya melakukan diskusi, dengar pendapat dengan para umat di daerah tersebut dan juga memberikan motivasi-motivasi selain bantuan berupa material tentunya,” kata Budiman setengah bercerita. Hampir setiap Sabtu dan Minggu Budiman selalu meluangkan waktunya untuk melakukan kunjungan ke daerah-daerah, selain untuk tugas pekerjaan juga untuk kegiatan MBI.     
    
Budiman juga menjelaskan bahwa di agama Buddha yang paling penting adalah komitmen masing-masing orang. Ada yang mau komitmen di meditasi ataupun membaca ayat-ayat suci. “Kalau saya sendiri masih kombinasi. Saya ini Buddhism Zen. Saya pilih itu karena orang yang logikanya menonjol itu paling cepat ditampar oleh ajaran Zen. Karena Zen selalu melontarkan sesuatu di atas logika,” tutur pria vegetarian ini.

Keindahan Sebuah Gelas
Ketika PROSPEKTIF menggali soal Buddhism Zen yang diyakini Budiman, pria yang pernah berjualan limun ketika SD dulu ini hanya mengajak melihat gelas yang ada di depannya. Kemudian dia mengajukan pertanyaan, “Apa yang paling indah dari gelas ini? Warnanya yang sebening kristal atau bentuknya yang hexagonal, atau apanya?” Setelah kami mencoba menjawab dengan versi kami masing-masing, dia hanya tersenyum kemudian berkata, “Yang paling indah dari gelas ini adalah tengahnya yang kosong. Jelas kalau tengahnya tidak berlubang dan kosong maka gelas ini tidak berfungsi.” Bagaimana menurut Anda?

Rosan P.Roeslani, Direktur Utama Recapital Advisors
Dalam Satu Hari Paling Tidak Satu Kali Shalat Berjamaah
Mendapatkan pengajaran agama yang cukup ketat dari orang tua, membuat Rosan menjadikan agama sebagai pegangan dalam kehidupan berbisnisnya. Lalu apa saja yang ia lakukan untuk menerapkan pegangan hidupnya tersebut? Dan bagaimana pula ia menjalankan bisnisnya?

Carilah nafkah yang halal seolah-olah kamu hidup seribu tahun lagi selalulah kamu berdoa seolah-olah kamu meninggal esok hari.

Mungkin Anda pernah mendengar kalimat nasihat tersebut. Nasihat itulah yang kini diterapkan oleh Rosan P.Roeslani, Direktur Utama Recapital. Seperti yang diakuinya, kalimat nasihat yang penuh makna tersebut keluar dari mulut Ibundanya. Sebagai seorang anak, sudah seharusnyalah patuh terhadap orang tua. Hal yang sama juga dilakukan oleh Rosan. Ia selalu mengambil tindakan dengan pertimbangan nasihat tersebut.
    
Tak hanya berpegang pada kalimat nasihat sang bunda, sebagai seorang muslim, Rosan memegang teguh ajaran yang telah ditentukan dalam Al-Quran dan Hadist. Dengan begitu, Rosan dapat menjalankan bisnisnya dengan lancar. Sebelum menerapkan aspek religi di dalam perusahaannya, Rosan menerapkannya dalam lingkungan keluarga. “Kalau di keluarga sendiri sih, saya mulainya dari hal kecil,” ujar Rosan. Ia mencontohkan hal-hal kecil tersebut adalah kejujuran. Rosan sangat menghargai apa yang dinamakan dengan kejujuran. “Selalu jujur dalam bertutur kata, dan jujur dalam bertindak,” tuturnya. Dengan bermodalkan kejujuran tersebut, Rosan mampu mengembangkan perusahaanya.     
    
Target Dunia dan Akhirat. Rosan pun menerapkan apa yang dipahaminya sebagai seorang muslim dengan mencoba untuk menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. Dengan begitu, selain mengejar nafkah untuk keduniaan, ia juga tidak ketinggalan untuk mencapai kebahagiaan di akhirat. Menjalankan shalat lima waktu adalah salah satunya. Salah satu rukun Islam tersebut tak ingin ditinggalkannya walaupun di tengah-tengah kesibukan bekerja, bahkan ia juga berusaha untuk melakukan shalat berjamaah bersama dengan istrinya di rumah. “Paling tidak salam sehari, kita harus shalat berjamaah minimum satu kali,” aku Rosan. Istrinya yang juga merupakan seorang muallaf pun mendukung Rosan dalam melaksanakan ibadah dengan baik. Seperti yang diakui Rosan, sang istri sering membangunkan dirinya pada waktu Subuh agar dapat melaksanakan Shalat Subuh.
    
Selain shalat lima waktu, pria kelahiran 31 Desember 1968 ini juga menjalankan bentuk ibadah lainnya, termasuk umrah dan naik haji. Karena rasa rindunya terhadap Tanah Suci, Rosan selalu menjalankan ibadah umrah setiap tahun di bula Ramadhan. Ibadah tersebut telah dijalankannya secara rutin sejak 1996. ia bahkan pernah mengajak anaknya yang masih balita untuk ikut serta pergi umroh. Sedangkan untuk naik haji, ia melaksanakannya pada musim haji tahun 2001. tak cukup menjalankan ibadah sakral, Rosan juga mencoba menerapkan perintah agamanya dalam membina hubungan antar manusia. Salah satu caranya adalah sengan membentuk Yayasan Amanah Recapital. Yayasan tersebut dibangunnya bersama rekan sekaligus sahabatnya, Sandiaga Uno. Bersama Sandi-panggilan akrab Sandiaga Uno-Rosan membangun yayasan yatim piatu yang terletak di daerah Pondok Gede, Jakarta Timur. Selain itu, ia juga bersama Sandi membangun Bandung Amanah Islamic Centre, yang terletak di daerah Cijapati, Bandung. Di Bandung, ia membangun sekolah Islam terpadu beserta fasilitas asrama dan masjid. Saat ini, jumlah murid yang telah ditampungnya berjumlah 340 anak.
    
Selama menjalankan ibadah, Rosan pun pernah merasakan pengalaman rohani yang tidak pernah ia lupakan. Pengalaman tersebut dirasakannya ketika ia menjalankan umrah di Tanah Suci, Mekkah. Setelah melaksanakan Tawaf, ia berkeinginan untuk mencium Hajar Aswad. Bersama kerumunan orang lainnya, ia berusaha untuk mencium Hajar Aswad. Kakinya sempat terinjak, dan ia pun juga merasakan sakitnya tersikut oleh jemaah lainnya yang ingin mencium Hajar Aswad. Keesokan harinya, ia kembali bertekad untuk berusaha mencium Hajar Aswad. Rosan berniat untuk tidak menyakiti jemaah lainnya, karena ia pun pernah merasakan sakitnya berdesak-desakan untuk mencium Hajar Aswad. “Nggak sampai 3 menit, saya berhasil nyium Hajar Aswad,” tuturnya. Pengalamannya tersebut memberikan Rosan pelajaran yang sangat bermakna baginya untuk menjalankan kehidupan. “Jadi itu adalah satu hal yang menjadi tonggak hidup saya yang menentukan niat saya dalam segala hal,” kenangnya.

Perkenalkan Islam Kepada Sang Istri
Menjadi seorang kepala keluarga memang harus diiringi dengan tanggung jawab yang besar. Begitu pula dengan yang dialami oleh Rosan. Sebagai seorang suami dari sitrinya yang muallaf, Rosan dituntut untuk membimbing sang istri agar dapat mengenal dunia Islam.
    Walaupun begitu, ia mengaku tidak mengajari sepenuhnya tentan dunia Islam. “Yang ngajarin sih ada gurunya,” ku Rosan. Rosan hanya memperkenalkan Islam dalam kehidupan sehari-hari. Ia mengajarkan bagaimana penerapan ajaran-ajaran Islam dalam kehidupannya sehari-hari. Sehingga istrinya mampu mengenal Islam dengan baik, bukan Islam yang dikenal; sebagai teroris.

Dewi Motik Pramono, Pemimpin Umum De Mono Grup (LPKK)
Tiru Siti Khadijah
Mantan peragawati ear ’70-an yang tidak hanya kondang di tanah air tapi uga di mancanegara ini, memang dikenal memiliki kegiatan sosial yang sangat mewarnai sebagian besar hari-harinya. Dewi Motik mengaku, sikapnya yang demikian tidak lepas dari pendidikan agama yang diberikan orang tuanya.

Baginya, kesuksesan itu adalah pinjaman dari Tuhan. Segala pujian dan penghargaan pun semata karena karunia Tuhan. Dewi Motik merasa apa pun yang hendak dia lakukan, selalu mendapat bantuan Tuhan, termasuk pengalaman rohani yang tidak pernah ia lupakan ketika ia menunaikan ibadah hajinya pada usia 18 tahun.
    
“Saya merasakan sekali Tuhan itu sangat sayang sekali dengan saya, kalau kita mendengar lagu Bimbo, “aku dekat, engkau dekat” itu benar sekali, untuk itu saya tidak mau satu detikpun saya melupakan Dia. Dan saya percaya sekali semua yang terjadi itu atas izin sang Maha Kuasa. Dalam keadaan senang atau dalam keadaan sedih saya selalu berkata Alhamdulillah, jadi bagi saya, yang sedih itu cobaan, yang gembira itu juga cobaan,” tutur wanita yang telah menerbitkan buku Management By Love, Membuat Suami dan Orang Lain Mencintai Kita.
    
Salah satu pendiri Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (Iwapi) ini memang selalu berusaha menjadi muslimah yang baik dengan menjalankan syariah-syariah Islam. Prinsipnya, melaksanakan sebaik mungkin ajaran yang diutamakan bagi kaum muslimah. Pandangan religiusnya begitu kentara, dari kata-katanya saat berbicara. Baginya, prinsip menjalani kehidupan sangat sederhana dan menjalankan aturan Allah dengan optimal.
    
Ketika ditanya arti religi sendiri, dengan tenang ia pun menjabarkannya dengan mulus, “religi itu adalah nafas hidup dan pegangan hidup saya adalah Alquranul Karim. Dimana yang penting dalam hidup, adalah habluminallah habluminannaas,” jelasnya.
    
Sejak kecil, ia bersama delapan saudaranya dibiasakan untuk shalat lima waktu berjamaah oleh sang ayah, Dr. Basyarudin R. Motik. “Menjelang shubuh, satu per satu kamar kami diketoknya untuk shalat berjamaah. Kami juga diikut sertakan dalam pengajian yang digelar di rumah, yang diikuti para ulama dan ustadz kondang, seperti Buya Hamka,” ujar wanita yang mempunyai tahi lalat besar di dagu.
    
Tak heran bila wanita kelahiran 10 Mei 1949 kini menerapkannya pada suami dan anak-anaknya. “Ketika saya bangun untuk melakukan shalat malam, saya langsung memeluk suami saya untuk membangunkan suami saya, dan membisikkan Asyhadu allaa illa ha ilallah, wa asyhadu ana muhammadan rosulullah, lalu Astaghfirullah tiga kali, kemudian al-fatihah, al-ikhlas tiga kali dan mengambil wudhu untuk shalat tahajud masing-masing lalu shalat berjamaah,” paparnya dengan tenang.
    
Tiru Siti Khadijah. Melihat perjalanan kesuksesan Pimpinan Umum DE MONO Group (LPKK DE MONO dan Koperasi DE MONO). Dewi Motik mengaku banyak belajar dari tokoh-tokoh teladan terdahulu, dan Siti Khadijah adalah salah satu guru terbaiknya dalam berwirausaha. Istri Nabi Muhammad itu mengajarkan ilmu sederhana tentang kewiraushaan, yaitu dengan menerapkan prinsip syariah Islam, seperti Nabi Muhammad SAW yang berdagang dalam rangka keimanan dan ketaqwaan.
    
Dewi menggambarkan, bagaimana Nabi Muhammad SAW sukses dalam berdagang, dan saat meminang Siti Khadijah ia membawa ratusan unta untuk mahar. Dewi juga menjelaskan bahwa umat Islam harus mengkampanyekan enterpreneurship sebagai hal yang harus diteladani. “Kewirausahaan itu bukan jiwa Barat. Itu jiwa Islam. Apalagi jelas kata-kata dalam Alquran, bahwa tangan di atas jauh lebih baik daripada tangan di bawah,” papar wanita yang mendapat penghargaan anugerah kebudayaan dari kementrian kebudayaan dan pariwisata yang enggan memberi tahukan berapa jumlah anak asuhnya. SUMBER: PROSPEKTIF, 3-9 April 2006 , www.anin-bakrie.com

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 46 other followers

%d bloggers like this: