Ketika Allah SWT Berbicara Kepada Kita


Waktu saya ikut-ikutan nonton film Ayat-Ayat Cinta gara-gara nemani anak dan istri sekitar dua bulan lalu, ternyata ada juga hal yang baik yang bisa saya ambil meskipun dari film. Bukan filmnya sendiri, tetapi dari dialognya ketika sang tokoh di penjara. Dia dinasihati oleh teman setahanannya bahwa “Allah sedang berbicara sama kamu….”.

Ya betul, setiap saat Allah berbicara dengan sangat jelas loud and clear kepada kita baik secara qauliyah maupun secara qauniyah, hanya kita yang sering lalai tidak mau mendengarkatan pesan yang disampaikanNya tersebut.

Coba kita lihat, kurang jelas apa pesan Allah dalam dua ayat berikut misalnya;

Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa. (QS 2:276)

Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. Dan jika kamu bertobat (dari pengambilan riba), maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya. (QS 2:279)

Lantas secara qauniyah-nya betapa jelas pesan Allah bahwa ekonomi ribawi dunia sedang dimusnahkanNya (maaf saya gunakan bahasa dimusnahkan – karena inilah bahasa Al-Quran). Berikut dalah beberapa indikatornya untuk kita yang di Indonesia :

• Saat ini Indonesia (dan juga dunia) sedang dilanda inflasi yang sangat tinggi. Data dari BPS per Juni 2008 yang dikeluarkan tiga hari lalu menunjukkan inflasi kita tahun ini (year on year) sudah mencapai 11.03%.

Ini dampaknya luar biasa, karena kalau penghasilan kita naik 11% saja tahun ini, maka ini hanya cukup untuk mengimbangi naiknya harga-harga. Padahal mayoritas pegawai tidak naik penghasilannya, atau kalau toh naik – kenaikannya mayoritas lebih rendah dari angka inflasi tersebut. Artinya mayoritas kita – penduduk Indonesia, akan mengalami kemunduran dalam hal kemampuan ekonominya tahun ini.

• Sayangnya, karena kita tidak mendengar pesan-pesan Allah tersebut diatas, ketika kita dalam keterpurukan inflasi – langkah yang diambil pihak yang punya authority negeri ini justru akan membenamkan kita lebih jauh.

Bank Indonesia kemarin menaikkan suku bunganya sebesar 25 basis poin dari 8.5% ke 8.75%. Artinya daya tarik riba bukannya dihilangkan malah ditingkatkan.

• Dengan iming-iming bunga yang lebih tinggi, maka uang yang seharusnya beredar untuk mendorong sektor riil – ditarik masuk ke SBI, Depossito dan sejenisnya.

Sektor riil yang sudah babak belur dihantam kenaikan biaya produksi yang di trigger oleh kenaikan bahan bakar bulan lalu – kini dihantam lagi dengan kenaikan cost of fund dan harus bersaing dengan bunga perbankan yang semakin tinggi.

• Inilah maju kena –mundur kena-nya ekonomi ribawi, langkah mana saja yang ditempuh – tidak akan bisa melawan kehendak Allah, sedangkan kehendak Allah sudah disampaikan ke kita secara loud and clear tersebut, yaitu tidak ada jalan lain selain meninggalkan ekonomi ribawi ini.

• Disisi lain Allah sudah bicara kepada kita pula melalui bukti sejarah yang sangat panjang. Bahwa lebih dari 1400 tahun ada pilihan mata uang yang tidak pernah terkena inflasi yaitu Dinar. Di Zaman Rasulullah SAW , satu Dinar cukup untuk membeli 1 – 2 kambing ; satu Dinar yang sama (saat tulisan ini dibuat sekitar Rp 1,2 juta) tetap dapat untuk membeli 1 – 2 ekor kambing.

Itulah ayat-ayat Allah yang Kami membacakannya kepadamu dengan sebenarnya; maka dengan perkataan manakah lagi mereka akan beriman sesudah (kalam) Allah dan keterangan-keterangan-Nya. (QS 45:6). Maha benar Allah dengan segala firmanNya.

Iqbal Muhaimin

(President Of geraidinar.com)

Taken from : http://www.gerai dinar.com

Bantu RI Hadapi Krisis Ekonomi, Saatnya UKM Jadi Nomor Satu

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) kini masih dianggap sebagai ‘warga kelas dua’. Dianggap kurang bergengsi dan masih dipandang sebelah mata oleh perbankan. Padahal di tangan UKM inilah perekonomian Indonesia bisa tahan banting menghadapi krisis. Bagaimana sebenarnya perkembangan UKM di Indonesia dan prospeknya ke depan? Apa saja yang harus dilakukan oleh para pengusaha UKM? Berikut wawancara dengan Nining Soesilo, Direktur UKM Center FEUI di kediamannya, kawasan Panglima Polim, Jakarta. Nining merupakan kakak dari mantan Menteri Keuangan Sri Mulyani, yang kini menjadi Managing Director di Bank Dunia.

Bisa ceritakan sedikit soal UKM Center FEUI?

UKM center UI ini umurnya paling muda di FEUI, yang paling tua kan LPEM. LPEM berdiri 1953 didirikan pak Soemitro Djojohadikusumo. Itu tempat berkumpulnya dosen-dosen ilmu ekonomi. Yang nomor dua tertua itu lembaga manajemen, kemudian nomor tiga lembaga demografi. UKM Center yang paling muda usianya baru 4 tahun, baru berdiri 2005.

Atas usulan siapa?

Dari usulan dekan. Sejarahnya UI kan fakultasnya duluan sebelum universitasnya. Dulu pertama kan Fakultas Kedokteran dan Fakultas Ekonomi, kalau Fakultas Teknik-nya kan di Bandung sekarang sudah jadi ITB, Fakultas Pertanian jadi IPB. Kemudian UI menjadi universitas, sejarah ini cukup membebani karena ada kesan multi fakultas bukan universitas. Makanya dalam pemilihan dekan ini rektor kelihatannya ingin ada kesan universitas bukan multifakultas. Ini pasti ada gesekan karena mengubah sejarah yang sekian lama. Ini juga yang bikin pemilihan dekan agak berbeda. Sekarang jadi ada pasang iklan supaya dari luar ada yang mendaftar tidak hanya dari dalam FEUI saja. Mungkin Rektor pengen FEUI lebih transparan. Hari ini kandidat masukan formulir, nanti jumat ada prakualifikasi dan sabtu ada presentasi

Sudah ditentukan berapa calon?

Hari ini yang masuk 8 orang. Nanti akan dipilih 3 terbaik. Dipilih oleh 11 orang, terdiri dari 9 internal FEUI.

Ada perubahan yang diharapkan di FEUI?

Ya tentu saja, salah satunya mengenai kewirausahaan. Kalau kita lihat, selama ini kewirausahaan di FEUI kebanyakan teorinya dan dianggap sebegai residual. Tidak dianggap dari awal hanya menjadi faktor pengikut. Itu cara pandang di jurusan ekonomi. Karena banyak orang bilang kalau mau jadi pengusaha tidak usah sekolah juga bisa. Padahal negara kita mengalami kendala karena struktur usahanya enggak bagus. Apalagi di saat krisis, banyak orang PHK. Sudah bisa menjadi solusi kalau penduduk Indonesia bisa berwirausaha. Tugas pemerintah sudah berat untuk menyediakan lapangan kerja bagi masyarakat. Seharusnya seperti di negara maju, peran Pemerintah tidak besar, komponen investasi swasta yang lebih banyak. Kalau di Indonesia komponen perekonomian nasional itu 60 persen dari konsumsi, bukan suatu tanda yang baik.

Seharusnya wirausaha yang tinggi?

Ya karena itu kan konsumsinya pasti akan tergerus komponen investasi yang tinggi, dan investasi yang tinggi itu digerakan oleh kewirausahaan. Kan biasanya rumus pertumbuhan ekonomi dari konsumsi ditambahin investasi ditambah pengeluaran pemerintah ditambah ekspor dikurangi impor. Memang negara kita senangnya mengkonsumsi, kurang mau berusaha. Karena capek dan repot. Kita enggak suka sebagai supplier tapi lebih sebagai intermediatornya karena cepat dan gampang. Kita memang bukan negara produsen. Kalau emang mau nyalahin penjajah, dulu orang pribumi dipetakan jadi dua yaitu pegawai negeri dan petani. Sebagai penggerak ekonomi disimpan bangsa Tionghoa, karena memang mereka lebih pintar disitu. Jadi kalau orang Indonesia masuk ke dalam lingkaran orang Tionghoa itu merasa enggak nyaman, ibaratnya kolam dia akan merasa asing karena bukan di dalam kolamnya. Itu masih dianggap kelas dua oleh bangsa kita. Kita baru bisa bangga jika sudah bekerja di orang lain. Ini diharapkan bisa berubah dari bangsa kita, kalau tidak sekarang kapan lagi. Makanya kami di UKM center melakukan bedah UKM setiap bulan dan beberapa lomba UKM.

Bagaimana kondisi UKM saat ini di Indonesia?

UKM itu yang bertahan yang memasok kebutuhan primer, yaitu makanan, minuman dan pakaian. Consumer goods. Kedua, dia yang tidak terlalu terekspose dalam kegiatan international. UKM kan lokalitasnya tinggi, jadi sebetulnya tidak terlalu terpengaruh krisis. Dari krisis tahun lalu pun tidak terlalu terpengaruh. Dia bakal terpengaruh kalau memiliki komponen impor yang cukup tinggi, misalnya tahu dan tempe kan komponen kedelainya masih impor. Dia bisa bertahan kalau banyak menggunakan komponen lokal.

Jadi yang bisa bertahan contohnya UKM sektor mana?

Yang pasti yang lokalitasnya tinggi. Sektor industri kreatif, sangat menjanjikan. Potensinya sangat luar biasa karena orang Indonesia tergolong kreatif. Cuma masih main di perencanaan dan ide, begitu masuk ke detail kita masih harus banyak belajar karena kan memang kewirausahaan itu menuntut sesuatu yang terus-menerus. Kita masih banyak manja di saat terjungkal tidak mau bangkit kembali. Padahal itu bisa membuat makin pintar.

Sektor UKM yang rentan terhadap krisis?

Selain tahu dan tempe tadi mungkin yang menggunakan bahan dasar terigu, seperti roti, karena terigu masih impor dan harga gandum sangat terpengaruh nilai tukar. Ada yang mulai beralih menggunakan tepung singkong pengganti terigu, salah satunya yang ikut lomba kami. Memang rasanya enak sekali, tapi dia tidak bisa bermain di skala yang lebih besar, karena komponen lain seperti mentega dan coklat masih impor juga. Kalau ada alternatif mungkin minyak kelapa atau minyak bunga matahari untuk mengganti mentega dia bisa menghemat. Saat ini saat yang paling baik untuk kita mencintai produk kita sendiri. Jangan terlalu melihat semua yang dari luar itu lebih bagus.

Tapi di Indonesia rata-rata pola pikirnya seperti itu?

Ya itu karena kita mental dijajahnya masih ada. Belanda sudah enggak ada, tapi di hati kita, mental dijajah itu masih ada. Contohnya, bintang film Indonesia saja banyak yang berbau bule kalau mau dibilang cantik kan.

Apa yang harus dilakukan sektor UKM di tengah krisis seperti sekarang ini?

Kalau UKM harus mengembangkan dengan tekun apa yang ada di bumi Indonesia. Karena banyak negara lain mengalami guncangan karena resource-nya enggak banyak. Sebenarnya kita masih disayang sama Tuhan dengan banyaknya sumber daya alam, tanpa melakukan ekspor pun sebenarnya perdagangan domestik bisa tetap jalan. Kondisi negara kita secara finansial masih belum berkembang, kita juga beruntung disitu karena masih mengandalkan sektor riil. Dan UKM sebenarnya tidak perlu risau, karena PHK banyaknya di pabrik besar. Karena UKM sifatnya kecil jadi bisa bertahan. Yang menarik di negara kita, UKM masih mengandalkan bank untuk pinjaman modal.

Tapi kalau tidak ada bank, suntikannya darimana?

Di negara kita ini masih belum begitu mengenal dengan konsep modal ventura. Ini kan bukan UKM meminjam, tapi dapat dari sebuah lembaga ventura yang seperti memiliki modal di UKM itu atau kepemilikan saham. Jadi mereka tumbuh bersama. Seperti Starbucks kan itu UKM dari Venture Capital, Microsoft juga meminjam uang bukan dari bank. Nah di Indonesia memang ada lembaga ventura tapi prakteknya masih seperti bank memberi pinjaman bukan penyertaan modal.

Itu dirasa lebih menguntungkan UKM?

Iya, karena selain berbagi hasil juga berbagi risiko. Tapi memang orang yang akan menyertakan modal pasti pilih-pilih. Kira-kira UKM ini akan mati atau hidup terus. Memang dibutuhkan monitoring yang ketat dan transparansi. Kembali ke kejujuran UKM tersebut dan harus ada penempatan orang ventura di dalamnya. Tapi juga lembaga ventura di Indonesia itu kekurangan orang karena saking banyaknya UKM yang diurus.

Kebijakan pemerintah untuk sektor UKM saat ini bagaimana?

Kami sedang melakukan penelitian untuk KUR, mungkin tanggal 9 April sudah ada kesimpulannya. Kesimpulan sementaranya, KUR ini konsepnya kredit dengan penjaminan. Ini berbeda dengan kredit usaha tani yang dulu. Kredit dengan penjaminan ini dinilai lebih baik secara konsep karena dibarengi oleh kehati-hatian bank. Kalau KUR kan keputusan di bank, kalau kredit usaha tani di kementerian, jadi ada moral hazzard. Kalau bank kan lebih hati-hati, secara konsep sudah bagus. Dalam pelaksanaannya kan dilibatkan enam bank, BRI, Mandiri, Mandiri Syariah, Bukopin, BNI dan BTN. Nah, dari enam itu yang memiliki armada terdepan dengan UKM hanya BRI. Disitulah kita melihat ada kendala, karena bank lain selain BRI ini kekurangan orang atau human resources di sektor UMK. Memang dana pihak ketiga besar, dan dipaksa pemerintah untuk menyalurkan ke UKM. Budaya lima bank itu juga belum terlalu kuat di retail, terutama Mandiri yang kuat di korporat. Ini kasihan juga ke UKM-nya, karena bank itu pasti menyalurkan lewat usaha kredit mikro seperti koperasi. Dengan begitu suku bunganya jadi lebih tinggi. Jadi rantai kegiatannya cukup panjang. Juga undang-undang UKM yang baru keluar kemarin itu belum jelas. Sampai hari ini derivasi dari undang-undang itu belum ada karena belum bisa, peraturan pemerintahnya belum ada. Antara UU yang lama dan yang baru berbeda jauh sekali, mungkin karena memperhitungkan inflasi dan lain sebagainya sehingga komponen di UU No 5 sebelumnya itu tidak cocok dengan yang baru. Jadi ada kebingungan.

Kira-kira dalam 5 tahun ke depan UKM Indonesia akan seperti apa?

Saya kira akan lebih maju ya. Pertama, sekarang keberpihakan pemerintah kepada UKM melalui kebijakan-kebijakannya di kredit usaha seperti cluster satu dan cluster dua. Cluster satu kan bantuan langsung tunai itu ya, cluster dua itu pemerintah sudah mulai mengharapkan monitoring pemakaian dana. Diharapkan penyaluran dana ke UKM lebih transparan jadi yang dapat dana itu benar-benar UKM. Sudah banyak kebijakan pro UKM dari pemerintah, juga menumpukkan harapannya kepada UKM. CSR perusahaan juga itu sekarang banyak ke UKM.

Ada tips untuk yang mau memulai UKM?

Yang jelas dari para pemenang lomba kami dan pengalaman saya sendiri, tips-nya itu ya jalani saja. Jadi artinya ada sesuatu yang sifatnya just do it. Jalani, begitu jatuh bangkit lagi. Justru kalau orang kebanyakan teori malah justru takut duluan. Terlalu banyak pertimbangan, akhirnya malah enggak mulai melangkah. Itu pertama, yang kedua adalah begitu kita terjun semakin dalam maka semakin banyak risiko. Dengan banyaknya risiko, pendidikan itu menjadi semakin perlu. Kalau kita lihat orang bisa sukses tanpa pendidikan berarti orang itu jenius dalm hal itu. Nah, orang jenius di dunia kan cuma beberapa, sisanya orang rata-rata. Orang rata-rata inilah yang memerlukan pendidikan. Bagaimanapun juga kita membutuhkan logika berpikir. Kemudian, perlu juga komunitas untuk sharing. Saya menganjurkan sekali bagi mereka yang berwirausaha untuk membentuk komunitas, karena begini, kami sering menerima UKM yang kena musibah, apa itu ketipu lah atau bangkrut lah. Mereka itu sangat menderita sekali, ketika bertemu dengan kita jadi bisa sharing dan mengetahui letak kesalahannya. Komunitas ini bisa memberikan semacam advise kepadanya sehingga dia yang tadinya enggak kepikiran jadi bisa dilakukan. Dan dalam komunitas itu mereka bisa belajar dari mereka yang berhasil. Komunitas itu juga bisa berupa asosiasi sehingga menjadikan UKM lebih kuat. Selama ini ada beberapa UKM yang hancur, seperti baru bisa ekspor lalu ditipu negara lain, itu bisa ditanggulangi dengan adanya asosiasi. Asosiasi juga bisa berkomunikasi dengan Departemen Perdagangan, atau bahkan Departemen Luar Negeri supaya mendapat lebih banyak informasi.

Bisa ceritakan sedikit background pendidikan?

Saya tamat ITB tahun 1982, arsitektur. Masuknya tahun 1976. Tahun 1982 langsung masuk University of Iowa, kebetulan menikah dengan suami saya dia langsung sekolah ke Amerika jadi saya ikut. Beasiswanya saya dapat di sana karena kebetulan nilai saya bagus di awal. Dulu saya ambil jurusan Urban Regional Planning. Disana saya punya anak pertama, di tengah jalan anak saya baru 1 tahun saya sudah hamil lagi, jadi saya pikir enggak bakal selesai cepat. Di situlah saya pindah major ke geografi, saya selesai tahun 1986. Tahun berikutnya kembali ke Indonesia dan gabung dengan LPEM FEUI. Saya mulai mengajar di FEUI secara enggak sengaja. Saya kan bekerja sebagai peneliti di sana dan penelitian saya dilirik oleh ketua jurusan sehingga akhirnya dipaksa untuk mengajar, padahal saya tidak punya background ekonomi. Lalu saya mulai belajar sendiri, baca buku dan segala macam, sampai akhirnya malah bikin buku sendiri. Bisa dibilang mulai aktif mengajar sekitar tahun 1994 sampai sekarang. Pemanfaatan teknologi informasi untuk kegiatan bisnis merupakan suatu kebutuhan pelaku usaha dewasa ini. Manfaat teknologi informasi tak hanya sebatas mempercepat proses kerja di dunia usaha, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas dan produktivitas usaha. UKM sangat penting untuk mendapat perhatian pemerintah, sebab terbukti tak terpengaruh dengan adanya krisis global. Malah, UKM bisa menjadi tumpuan harapan untuk keluar dari krisis. Atas dasar itulah, Departemen Perindustrian dan Perdagangan (Deperindag) bekerjasama Pemerintah Kota Bogor mengacu semangat pelaku Usaha Kecil dan Menengah (UKM) agar memanfaatkan teknologi informasi. Kemarin, Deperindag dan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishub-kominfo) melaksanakan seminar sehari dengan mengangkat tema’ Peran IT (Information Teknologi) menunjang sukses wirausaha’. Seminar tersebut dihadiri sedikitnya 100 pelaku UKM di Kota Bogor. “Pemanfatan teknologi informasi sudah menjadi kebutuhan untuk menunjang kebutuhan bisnis skala kecil, menengah, maupun besar. Karena itu, jangan sampai pelaku UKM di Kota Bogor ketinggalan zaman. Jika hal itu terjadi, maka pasti kalah bersaing dengan pelaku bisnis di daerah lain, bahkan yang dijalani saat ini terancam tidak tumbuh berkembang,” ujar Asisten Administrasi Kemasyarakatan dan Pembangunan Eddy S Warsa saat membacakan sambutan Walikota Bogor, kemarin. Eddy menambahkan, pemkot sudah mulai menerapkan pemanfaatan teknologi informasi untuk pengadaan barang dan jasa melalui program e-Procurement (e-Proc). Karena itu, wirausaha juga perlu menerapkannya. Pemkot mensyaratkan perusahaan – perusahaan yang akan menjadi rekanan untuk mengikuti lelang proyek melalui internet,” tegas Eddy. Sementara itu Dirjen Telematika Deperindag, Ramon Bangun mengatakan, peran informasi teknologi sangat penting dalam menunjang kegiatan bisnis. “Makanya, kita menggiring masyarakat utamanya pelaku usaha untuk aktif memanfaatkan IT agar tidak ketinggalan,” ujar Ramon. Menurutnya, transaksi online sudah sangat tren dewasa ini dan merupakan pangsa pasar yang menjanjikan. “Diharapkan melalui pelatihan seperti ini, pelaku UKM termotivasi untuk memanfaatkan informasi teknologi dalam menjalankan usahanya,” tandas Ramon. Pelaku Usaha Kecil, dan Menengah (UKM) Kabupaten Bener Meriah membutuhkan sentra pasar tradisional untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih baik serta persaingan pasar yang sehat. Hal itu, sebagai jawaban atas persoalan, yang dihadapi kalangan pelaku UKM selama ini, khususnya dalam perdagangan sayur mayur. ” Saya kira ini solusi yang baik untuk menjawab persoalan yang dihadapi kalangan pelaku UKM selama ini, apalagi di Bener Meriah 80 persen masyarakatnya adalah petani dan selin kopi, masyarakat juga menghasilkan sayur-mayur yang banyak dikirim keluar daerah ,” kata ketua Forum Daerah (Forda) Usaha Kecil Menengah (UKM) Bener Meriah, Tengku Harun, pagi ini. Dalam empat tahun terakhir, katanya, sejak kabupaten Bener Meriah berdiri, banyak konsumen mengeluhkan perbedaan harga holtikultura antar pedagang. Dicontohkan, harga tomat di kampung Buntul, kecamatan Permata tidak sama, dengan harga tomat di Pondok Baru, kecamatan Bandar Bener Meriah. Padahal jarak kedua tempat itu tidak terlalu jauh. ”Tanpa adanya pusat pasar tempat penumpukan sayur, akan terjadi over produksi di satu dan tempat berbeda, yang mengakibatkan harga menurun karena harga tak terpantau. Muara dari ini semua, petani dan pedagang sama-sama rugi, serta minat konsumen menurun, padahal sebagian besar sayur-sayur di Bener Meriah dikirim keluar daerah ” katanya. Sementara, pedagang sayur mayur Ardiansyah, meminta agar pemerintah segera merealisasikan sentra pasar tradisional dimaksud. ”Pemerintah perlu segera merumuskan aturan ini dan segera menentukan lokasi yang pas, tanpa adanya pusat pasar dan pengaturan harga, maka selamanya pula petani dan penjual sayur-mayur tetap rugi ” tandasnya. (fn/dt/bg/ws)

Taken from http://www.suaramedia.com

Arifin Panigoro

Arifin Panigoro

Simbol Kebangkitan Politik Pengusaha

Sebelum Orde Baru tumbang tahun 1998, nama Arifin Panigoro hanya dikenal kalangan terbatas sebagai pengusaha di bidang perminyakan. Lingkaran pergaulannya lebih banyak dengan Pertamina dan pengusaha perminyakan internasional. Namun, ketika reformasi tengan “hamil tua” yang ditandai dengan maraknya aksi demonstrasi mahasiswa, kesadaran politik Arifin bangkit. Ia telah menjadi simbol kebangkitan politik pengusaha.

Tidak hanya itu, ia turut serta secara aktif membantu pergerakan mahasiswa, termasuk menyiapkan nasi bungkus untuk dikirim kepada mahasiswa yang tengah menggelar aksi di Gedung DPR Senayan, Jakarta.

Alumni Elektro Institut Teknologi Bandung (ITB) tahun 1973 ini memulai usahanya tidak langsung menjadi bos di Meta Epsi Drilling Company (Medco). Sebelum tahun 1980-an, awalnya ia cuma sebagai kontraktor instalasi listrik door to door. Selanjutnya memulai proyek pemasangan pipa secara kecil-kecilan. Begitu ada proyek yang berdiameter besar, hal itu bukan porsi pengusaha lokal, melainkan pengusaha asing. Jadi, setiap Pertamina melakukan tender untuk pemasangan pipa besar, maka perusahaan asing yang menang karena untuk pipeline butuh peralatan berat. Peralatan itu umumnya hanya dimiliki oleh perusahaan asing.

Kondisi itu membuatnya berpikir, sebaiknya pengusaha lokal pun diberi kesempatan atau dibantu untuk bisa menangani pemasangan pipa besar dan tidak hanya diberi pekerjaan yang kecil-kecil. Tahun 1981 ia memberanikan diri untuk mulai masuk proyek pipanisasi yang berdiameter besar. Untuk pekerjaan itu, ia bekerja sama dengan perusahaan asing. Deal-nya, bila satu proyek selesai, bagi hasilnya adalah peralatan itu. Mitra setuju, proyek pun selesai. Sejak itu dengan alat tersebut ia mencari proyek ke mana-mana.

Selain menggandeng mitra asing, dukungan dan proteksi dari pemerintah amat diperlukan. Tidak mungkin pengusaha lokal yang baru berdiri dan tidak memiliki pengalaman dapat tiba-tiba bersaing dengan perusahaan asing yang berpengalaman di bidang perminyakan sela puluhan tahun. Menggandeng mitra luar dan dukungan pemerintah itu merupakan cara pengusaha lokal bisa membuka pintu ke bidang bisnis yang lebih luas. Dengan begitu, persaingan dengan perusahaan asing bisa dilakukan.

Semuanya dimulai dari tahapan membiasakan pengusaha lokal mengerjakan proyek besar. Contoh yang dialaminya dengan bendera usaha Medco tejadi pada tahun 1979-1980 ketika terjadi oil boom, Sekretariat Negara mengambil inisiatif untuk membangun kilang minyak karena ada tambahan anggaran. Pada saat itu, pemerintah berkeinginan untuk menyelipkan unsur pembinaan bagi pengusaha lokal, termasuk Medco. Saat itu, dalam pembangunan Kilang Cilacap, Medco dikawinkan dengan satu perusahaan asal Amerika Serikat. Akhirnya, Medco yang tidak tahu apa-apa tentang pemasangan pipa, menjadi mengerti.

Demikian juga saat memulai usaha pengeboran minyak tahun 1981, juga tak lepas dari bantuan pemerintah. Menurut Arifin, tahun itulah titik awal Medco menjadi besar. Pada waktu itu, ia memiliki kedekatan dengan Dirjen Migas Wiharso yang menginginkan ada pengusaha lokal dalam proyek jasa pengeboran. Kebetulan ada penyertaan modal pemerintah ke Pertamina, yang mau melakukan pengeboran gas di Sumatera Selatan.

Pemerintah mendorongnya untuk ikut tender, meskipun tidak punya peralatan ngebor. Pemerintah memanggil perusahaan asing yang berpeluang menang diminta untuk menyewakan alat, atau memakai orang-orang Medco sebagai mitra. Tujuan pemerintah waktu itu adalah untuk membesarkan pengusaha lokal. Namun, tanggapan dari perusahaan asing itu membuat Pak Wiharso tersingung dan batal. Lalu Pak Wiharso memintanya menggarap proyek itu sendirian. Arifin sama sekali tidak percaya dengan keputusan itu karena ia tidak memiliki pengalaman melakukan pengeboran.

Hasilnya, ia kelabakan karena proyek yang ditenderkan tahun 1979 sudah harus mulai dikerjakan pada tahun 1980. Dengan perasaan yakin, ia pun terima tantangan itu. Tahap awal ia instruksikan staf yang memiliki kemampuan bahasa Inggris untuk menjajaki pusat penjualan peralatan pengeboran di AS. Baru setelah ada kepastian dan diketahui harganya, ia terbang dari Jakarta ke Houston, AS. Perjalanan itu merupakan pengalaman pertamanya ke AS. Bermodal “bahasa Inggris Tarzan” dan uang 300.000 dollar AS, ia melakukan deal dengan pemilik barang. Hasilnya, deal berangsung buruk.

Penjual barang meminta dalam waktu dua minggu barang seharga 4 juta dollar AS sudah dibayar, kalau tidak maka uang muka 300.000 dollar AS hangus. Ia terpaksa menerima syarat itu karena posisi tawarnya yang jelek. Setelah itu ia langsung terbang ke Indonesia. Saking panjangnya perjalanan dengan tiket ekonomi, tiba di Indonesia langsung sakit. Namun, dengan kondisi yang berat ia berusaha menemui Gubernur Bank Indonesia Rachmat Saleh, lalu ke Pertamina.

Cara itu merupakan langkah terakhir yang harus dilakukan karena ia masih merupakan pengusaha “bayi”. Beruntung, Pak Piet Haryono dan Pak Wiharso memberikan rekomendasi, Medco patut dibantu. Dana pun cair di ambang batas perjanjian. Proyek pun bisa berjalan sesuai waktu yang ditentukan pemerintah.

Terhadap bantuan yang diberikan pemerintah itu, Arifin menilai sangat positif agar pengusaha lokal mampu bersaing. Namun, tetap harus dilakukan secara betul karena kalau tidak bisa, jadi salah arah. Di sinilah sulitnya, kadang proteksi itu memberikan hasil yang sebaliknya. Mumpung dikasih proteksi, pengusaha malah menjadi manja.

Setelah merintis usaha tahun 80-an, Medco memulai kejayaannya pada tahun 1990. Sebelum tahun 1990 Medco selalu bekerja sama dengan pihak ketiga dan untuk masuk ke sana bukan hanya masalah konsistensi ketekunan dan normatif, tetapi juga urusan garis tangan sebagai penentu. Sebab, untuk memburu satu sumur minyak bukan urusan ribuan dollar AS, tetapi jutaan dollar AS dan itu pun belum tentu ketemu minyaknya.

Namun, keinginan untuk bisa mandiri tetap ada, maka tahun 1990 untuk pertama kali Arifin membeli sumur minyak di Tarakan, Kalimantan Timur, seharga 13 juta dollar AS. Ladang itu mampu berproduksi 4.000 barrel per hari (bph). Tahun 1995, beli lagi sumur minyak tertua PT Stanvac Indonesia milik ExxonMobil, yang sampai saat ini total produksi yang dimiliki Medco mencapai 80.000 bph.

Barangkali inilah prestasi paling gemilang dari Arifin dan perusahaannya, Meta Epsi Drilling Company (Medco). Pembelian Stanvac dimenangkan melalui tender yang kemudian namanya diubah menjadi Expan. Dengan pembelian itu, PT Stanvac tidak lagi dikuasai orang asing sebab perusahaan minyak tertua di Indonesia itu sudah dimiliki sepenuhnya oleh Medco.

Keberhasilan itu konon karena ada unsur tekanan dari pemerintah. Atas isu tersebut, Arifin membeberkan bahwa ia membeli perusahaan minyak itu melalui tender intemasional. Untuk bertemu langsung dengan orangnya saja tidak bisa. Baru setelah selesai pembelian, mereka bisa benar-benar bertemu. Ia membelinya secara langsung. Waktu itu cadangannya cuma 20 juta. Kemudian tahun 1996 produksi digenjot. Hasilnya, satu lapangan saja bisa mendapatkan 320 juta barel minyak.

Sukses di bidang perminyakan ternyata membuat Arifin berpikir lain masih dalam sektor tambang. Kenapa orang lokal tidak bisa berjaya di gas, seperti halnya di minyak. Padahal Indonesia kan salah satu produsen gas terbesar di dunia dan banyak industri yang berteriak kekurangan gas? Pernyaan inilah yang kerap membuatnya gundah. Jika kita lihat pada satu sisi, Indonesia menempati posisi nomor satu di dunia dalam ekspor LNG karena cadangan gas jauh lebih banyak dari minyak. Kini, cadangan sudah mencapai 170 triliun kaki kubik (TCF). Jika cadangan itu diproduksi, sampai 50 tahun pun tidak akan habis.

Gas itu ada di luar Pulau Jawa, tetapi tetap harus harus dibawa ke Pulau Jawa karena berapa pun harganya tetap menarik. Misalnya PLN, jika membeli gas harganya hanya 3 dollar per million metric british thermal unit (MMBTU) sudah sangat mewah. Namun, kalau disetarakan dengan BBM sama dengan 18 dollar AS per barrel. Harga itu sangat murah dibandingkan harga BBM yang harus dibayar PLN sebesar 30 dollar AS per barrel.

Namun, kembali lagi, kenapa gas tidak ada di Pulau Jawa, ini masalah kebijakan pemerintah. Jadi, mestinya Bappenas atau Menteri bidang Ekuin sama memikirkan, apakah terus bergantung minyak yang harganya 30 dollar AS per barrel. Medco menjual ke Pusri 1,8 dollar AS ditambah ongkos pipa 0,5 sen dollar, sudah bisa untung.

Inilah yang ia anggap kebijakan itu keliru. Demikian juga proyek yang dibangun oleh PT Perusahaan Gas Negara, yang berhasil menyambung pipa gas ke Singapura, setelah itu membangun pipa ke Pulau Jawa adalah kebijakan yang salah. Gas di Sumsel sebenarnya tak banyak lagi, jadi seharusnya dibawa ke Jawa saja. Tetapi, barangkali pemeritah memiliki pertimbangan harga di Singapura yang barangkali lebih baik.

Sukses di dunia bisnis membuatnya ikut berpetualang ke dunia politik. Awalnya ia melakukan pertemuan di Hotel Radisson Yogyakarta tahun 1997. Sebenarnya itu adalah pertemuan atau diskusi biasa. Namun, efeknya luar biasa, khususnya buat Arifin. Ia dituduh berupaya menggagalkan Sidang Umum MPR yang akan mengesahkan Soeharto menjadi Presiden ketujuh kalinya.

Ketika aksi mahasiswa semakin memanas, Arifin memberi bantuan konsumsi kepada para demonstran yang melakukan aksi di Gedung DPR. Ribuan kotak makanan dikirim. Tak heran jika kemudian muncul opini bahwa Arifin adalah tokoh di belakang aksi atau cukong para mahasiswa. Namun, Arifin tahu bahwa ia tidak sendiri. Gerakan reformasi merupakan suratan untuk memperbaiki keadaan.

Cobaan terhadap langkahnya di dunia politik masih berlanjut. Di era Presiden BJ Habibie, Arifin Panigoro kembali dijerat dengan tuduhan pidana korupsi penyalahgunaan commercial paper senilai lebih dari Rp 1,8 triliun. Pada waktu itu, sejumlah kalangan percaya dijeratnya Arifin karena kedekatannya dengan gerakan mahasiswa. Bahkan pada masa pemerintahan Megawati, Arifin kembali dicoba untuk dijerat lewat perkara di kejaksaan. Sejak awal, dirinya yakin hanya dikerjain karena masih banyak pihak yang tidak senang dengan aktivitas politik yang digeluti.

Pengalamannya sebagai pengusaha membuat dia tidak kaget dengan praktik politik karena di dalamnya ada aktivitas melobi atau menggarap, juga money politics. Baginya, hari-hari uang adalah urusannya. Dari permulaan bekerja sebagai pengusaha, ia tidak pernah buat kesepakatan dengan fasilitas yang diperolehnya.

Demikian juga dengan urusan politik yang juga bagian dari kompromi lintas fraksi, kesepakatan semua kekuatan. Hal-hal begitu tidak selalu pakai uang, cukup pengertian bahwa kita punya sesuatu yang lebih besar, mari kita jalani sama-sama. Namun, perjalanan tidak selalu mulus, godaan banyak. Apalagi kekuatan politik sekarang sesudah zaman Soeharto, relatif pemainnya baru semua.

Meskipun terbiasa bermain dengan uang, namun Arifin mengaku memiliki batasan dalam memainkan uangnya. Sayangnya, proses politik atau proses pengambilan keputusan politik, ternyata uang yang berbicara. Padahal, meskipun ia seorang pebisnis, tetapi ia mau bisnis tanpa uang. Meskipun ia mengaku, cara bisnisnya memang tidak sebersih di AS. Di negara itu, mentraktir makan di atas 100 dollar AS sudah termasuk kategori sogokan. Ia tidak begitu amat, tetapi mendambakan good government and corporate governance, supaya bisa membuat bangsa ini ke depan lebih baik.

Ia berhitung, hari ini, uang dihabiskan untuk apa saja. Ia mau menghitung berapa total uang yang dikeluarkan dalam pemilihan kepala daerah di Indonesia, yang akan membebani APBD setiap daerah. Jangan lupa, itu uang rakyat dari pajak. Kalau pemimpinnya main, tentu menggelembungkan dana proyek, tentu bawahan juga ikut ambil bagian. Dengan demikian korupsi akibat kedudukan bisa menimbulkan efek berantai, jika dana diselewengkan Rp 1 triliun, uang rakyat yang bakal hilang sekitar Rp 10 triliun untuk pemilihan kepala daerah.

Perkenalannya lebih mendalam dengan dunia politik adalah ketika partai-partai baru bermunculan tahun 1998-1999 setelah lengsernya Soeharto dari kursi presiden. Pada awalnya, Arifin menjalin hubungan dengan berbagai tokoh politik, baik tokoh masyarakat yan sudah lama dikenal maupun tokoh yang baru muncul. Saat deklarasi partai baru dilangsungkan, Arifin kerap menghadirinya. Namun, akhirnya pilihannya jatuh ke PDI Perjuangan yang dipimpin Megawati Soekarnoputri. Bersama PDIP, Arifin pun melenggang menuju Senayan sebagai anggota DPR/MPR.

Untuk kategori pemain baru di dunia politik, sebenarnya karir politik Arifin terbailang bagus. Ia bisa duduk di jajaran DPP partai peraih suara terbanyak dalam pemilu. Ia pernah memimpin lintas fraksi, juga menjadi Ketua Fraksi PDIP MPR. Namun, dunia politik memang seperti cuaca yang cepat berubah. Arifin yang kerap dikenal sebagai anak “indekos” di partai berlambang banteng merah gemuk itu dianggap sudah kurang loyal kepada partainya dan mulai memihak lawan partai politiknya bernaung.

Arifin Panigoro yang dulu dianggap sebagai inspirator pembangunan jalan mulus Presiden Megawati menuju kursi kepresidenan, kini dianggap sebagai anak yang nakal. Isu pun merebak bahwa Arifin bakal dipecat. Namun, hingga saat ini, isu tersebut tidak berbuah menjadi kenyataan.

Terhadap isu tersebut, ia berpendapat kalau dirinya dikeluarkan, sepertinya ia harus membuat acara perpisahan dengan teman-teman. Tetapi, sebetulnya ia sudah memikirkan untuk keluar. Menurutnya, kalau dikeluarkan dirinya akan lebih senang. Seperti orang kerja, kalau berhenti tidak dapat pesangon, kalau diberhentikan malah dapat pesangon.

Meskipun siap untuk keluar, namun mengenai masa depan politiknya masih belum jelas, dan ia sendiri masih belum bisa mengira-ngira ke mana akan berlabuh. Hal itu terjadi karena dari tahun 1998 ia termasuk non-partisan, meskipun belakangan bergabung ke partai. Awalnya, ia datang pada setiap acara peresmian partai baru, sampai akhirnya bergabung dengan PDIP.

Arifin menganggap dirinya sebagai seorang oportunis yang iseng-iseng. Atau ia hanya ingin ada lima tahun periode yang lain, tidak hanya menjadi seorang pengusaha.Tetapi yang pasti, hematnya, konyol jika berhenti lalu serta-merta melawan PDIP, apalagi mau menggulingkan Megawati.

Jika benar-benar mundur dari dunia politik, kemungkinan ia akan relaksasi dan bermain golf di Paris atau mencari sekolah khusus untuk mereka yang sudah berumur di kota yang mempunyai makanan yang enak-enak. Mungkin enam bulan istirahat dulu.

Ia juga termasuk orang yang respek terhadap cendekiawan muslim Noercholish Madjid (Cak Nur). Menurutnya, Cak Nur itu bukan politikus, tetapi berminat jadi presiden. Ketika pertama kali mengemukakan minatnya jadi presiden Arifin termasuk orang yang awal-awal mendatangi dan bertanya, ternyata jawabannya memang mau. Pikirnya, siapa pun ini, dia dari unsur yang berbeda dibandingkan politikus yang lain. Dengan demikian bisa menjadi ukuran moral, sebab moral juga harus terukur. Paling tidak, politikus ada malu-malu sedikit. Jadi, pencalonan Cak Nur, sebenarnya dapat meningkatkan kualitas pertandingan.

Mengenai kehidupan keluarganya, suami dari Raisis A Panigoro cukup bahagia. Anak-anaknya sudah besar, bahkan yang tertua Maera Hanafiah sudah menikah dan sebentar lagi dikarunia anak kedua. Adapun yang bungsu Yaser Mairi sedang menambah pendidikan di Singapura pada bidang IT. Sekarang, meskipun agak telat, ia sadar, kalau dirinya kurang memberikan perhatian kepada anak-anak, karena jam kerja yang ngawur. Sekarang, sejak sekolah di luar negeri, anak-anaknya seakan-akan lupa dengan orang tua.

Meskipun anak-anak itu bersekolah di luar negeri, namun tidak ada yang secara khusus disiapkan menggantikannya. Anak pertamanya seorang ibu rumah tangga, anak kedua tidak dipersiapkan untuk itu. Prinsipnya, Medco bukan perusahaan keluarga, jadi sebaiknya dijalankan oleh profesional. Kebetulan, adiknya orang minyak. Jadi, Hilmi Panigoro duduk Medco.

Ia juga tidak akan memaksakan anak-anak untuk meneruskan usaha orang tuanya. Jika kapasitasnya sudah dipenuhi, silakan saja kalau mau meneruskan. Ia mengaku tidak takut jika perusahaannya dipegang oleh orang lain, toh semua aset, cadangan tidak ke mana-mana.

Meskipun kini sudah menjadi “raja minyak”, suami dari Raisis A Panigoro ini mengaku, kaya itu relatif. Dia mengaku tak pernah menghitung, apakah dirinya kaya atau tidak, sebab semua hidup yang dijalani terus menggelinding. Baginya, disebut kaya itu relatif, kalau di Indonesia, seperti dirinya memang sudah menonjol. Sebagai orang yang beberapa kali dicekal untuk bepergian ke luar negeri, ia pun bertanya untuk apa kekayaan itu.

Sebagai orang yang romantis, ia mengaku merasa benar-benar kaya, kalau berada dalam satu konser musik yang benar-benar disukai. Seperti saat ini, setelah bisa menikmati alunan gamelan Jawa, maka setiap mendengar musik Jawa itu sebelum tidur, dia merasa kaya. Jadi, baginya kaya cukup sederhana, bukan harta melimpah atau kekuasaan.

Arifin juga sadar, suatu saat akan pendiun sebagai orang perminyakan. Namun, tidak berarti ia akan berdiam diri. Ia merencanakan untuk memfokuskan ke Medco yang lain yaitu di bidang agrobisnis. Sekarang ini orang sedang banyak bicara tentang pertanian. Masalah minyak goreng yang masih kurang kelapa sawitnya. Mungkin itu adalah salah satu pelabuhan yang akan ditujunya kemudian.

Nama :
Arifin Panigoro
Lahir:
Bandung, 14 Maret 1945
Agama:
Islam
Isteri:
Raisis A Panigoro
Anak:
Maera Hanafiah
Yaser Mairi
Pendidikan:
Lulusan Jurusan Elektro, Institut Teknologi Bandung, 1973
Mengikuti Senior Executive Programme Institute of Business Administration di Fountainebleau, Prancis yang dikoordinir oleh Kadin, 1979

Pengalaman Kerja :
:: PT Meta Epsi Duta Corporation (Komisaris Utama), sejak 1989
:: PT Inti Persada Multi Graha (Presiden Direktur), sejak 1994
:: PT Meta energi Petrasanga (Komisaris), sejak 1994
:: PT Energi Patranagari (Komisaris), sejak 1994
:: PT Apexindo Pratama Duta (Komisaris) sejak 1987
:: PT Citra Panji Manunggal (Komisaris Utama) sejak 1987
:: PT Meta Epsi Engineering (Komisaris Utama) sejak 1983
:: PT Meta Epsi Antareja Drilling Co.(Komisaris Utama) sejak 1983
:: PT Bina Karya Pariwisindo (Komisaris) sejak 1981
:: PT Meta Epsi Sarana Graha (Presiden Komisaris) sejak 1994
:: PT Meta Epsi Agro (Komisaris) sejak 1994

Jabatan Politik:
Ketua Fraksi PDI-P MPR RI 2002-2003

Organisasi :
:: Yayasan Padamu Negeri (Ketua Umum) 1991-sekarang,
:: Ikatan Alumni Elektro ITB (Ketua I ) 1989-sekarang,
:: Persatuan Insinyur Indonesia (Ketua Umum) 1994
:: Ketua DPP PDI-Perjuangan 1999

Alamat Rumah:
Jalan Jenggala, Kebayoran Baru.

 

Biografi Putera Sampoerna

Putera Sampoerna

Penjemput Pasar Masa Depan

Putera Sampoerna, mengguncang dunia bisnis Indonesia dengan menjual seluruh saham keluarganya di PT HM Sampoerna senilai Rp18,5 triliun, pada saat kinerjanya baik. Generasi ketiga keluarga Sampoerna yang belakangan bertindak sebagai CEO Sampoerna Strategic, ini memang seorang pebisnis visioner yang mampu menjangkau pasar masa depan.

Berbagai langkahnya seringkali tidak terjangkau pebisnis lain sebelumnya. Dia mampu membuat sensasi (tapi terukur)dalam dunia bisnis. Sehingga pantas saja Warta Ekonomi menobatkan putra Liem Swie Ling (Aga Sampoerna) ini sebagai salah seorang Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005. Sebelumnya, majalah Forbes menempatkannya dalam peringkat ke-13 Southeast Asia’s 40 Richest 2004.

Putera Sampoerna, pengusaha Indonesia kelahiran Schidam, Belanda, 13 Oktober 1947. Dia generasi ketiga dari keluarga Sampoerna di Indonesia. Adalah kakeknya Liem Seeng Tee yang mendirikan perusahaan rokok Sampoerna. Putera merupakan presiden direktur ketiga perusahaan rokok PT. HM Sampoerna itu. Dia menggantikan ayahnya Aga Sampoerna.

Kemudian, pada tahun 2000, Putera mengestafetkan kepemimpinan operasional perusahaan (presiden direktur) kepada anaknya, Michael Sampoerna. Dia sendiri duduk sebagai Presiden Komisaris PT HM Sampoerna Tbk, sampai saham keluarga Sampoerna (40%) di perusahaan yang sudah go public itu dijual kepada Philip Morris International, Maret 2005, senilai Rp18,5 triliun.

Pria penggemar angka sembilan, lulusan Diocesan Boys School, Hong Kong, dan Carey Grammar High School, Melbourne, serta University of Houston, Texas, AS, itu sebelum memimpin PT HM Sampoerna, lebih dulu berkiprah di sebuah perusahaan yang mengelola perkebunan kelapa sawit milik pengusaha Malaysia. Kala itu, dia bermukim di Singapura bersama isteri tercintanya, Katie, keturunan Tionghoa warga Amerika Serikat.

Dia mulai bergabung dalam operasional PT. HM Sampoerna pada 1980. Enam tahun kemudian, tepatnya 1986, Putera dinobatkan menduduki tampuk kepemimpinan operasional PT HAM Sampoerna sebagai CEO (chief executive officer) menggantikani ayahnya, Aga Sampoerna.

Namun ruh kepemimpinan masih saja melekat pada ayahnya. Baru setelah ayahnya meninggal pada 1994, Putera benar-benar mengaktualisasikan kapasitas kepemimpinan dan naluri bisnisnya secara penuh. Dia pun merekrut profesional dalam negeri dan mancanegara untuk mendampinginya mengembangkan dan menggenjot kinerja perusahaan.

Sungguh, perusahaan keluarga ini dikelola secara profesional dengan dukungan manajer profesional. Perusahaan ini juga go public, sahamnya menjadi unggulan di bursa efek Jakarta dan Surabaya. Ibarat sebuah kapal yang berlayar di samudera luas berombak besar, PT HM Sampoerna berhasil mengarunginya dengan berbagai kiat dan inovasi kreatif.

Tidak hanya gemilang dalam melakukan inovasi produk inti bisnisnya, yakni rokok, namun juga berhasil mengespansi peluang bisnis di segmen usaha lain, di antaranya dalam bidang supermarket dengan mengakuisi Alfa dan sempat mendirikan Bank Sampoerna akhir 1980-an.

Di bisnis rokok, HM Sampoerna adalah pelopor produk mild di tanah air, yakni rokok rendah tar dan nikotin. Pada 1990-an, itu Putera Sampoerna dengan kreatif mengenalkan produk rokok terbaru: A Mild. Kala itu, Putera meluncurkan A Mild sebagai rokok rendah nikotin dan “taste to the future”, di tengah ramainya pasar rokok kretek. Kemudian perusahaan rokok lain mengikutinya.

Dia memang seorang pebisnis visioner yang mampu menjangkau pasar masa depan. Berbagai langkahnya seringkali tidak terjangkau pebisnis lain sebelumnya. Dia mampu membuat sensasi (tapi terukur)dalam dunia bisnis. Langkahnya yang paling sensasional sepanjang sejarah sejak HM Sampoerna berdiri 1913 adalah keputusannya menjual seluruh saham keluarga Sampoerna di PT HM Sampoerna Tbk (40%) ke Philip Morris International, Maret 2005.

Keputusan itu sangat mengejutkan pelaku bisnis lainya. Sebab, kinerja HM Sampoerna kala itu (2004) dalam posisi sangat baik dengan berhasil memperoleh pendapatan bersih Rp15 triliun dengan nilai produksi 41,2 miliar batang. Dalam posisi ketiga perusahaan rokok yang menguasai pasar, yakni menguasai 19,4% pangsa pasar rokok di Indonesia, setelah Gudang Garam dan Djarum.

Mengapa Putera melepas perusahaan keluarga yang sudah berumur lebih dari 90 tahun ini? Itu pertanyaan yang muncul di tengah pelaku bisnis dan publik kala itu.

Belakangan publik memahami visi Tokoh Bisnis Paling Berpengaruh 2005 versi Majalah Warta Ekonomi ini ((Warta Ekonomi 28 Desember 2005). Dia melihat masa depan industri rokok di Indonesia akan makin sulit berkembang. Dia pun ingin menjemput pasar masa depan yang hanya dapat diraihnya dengan langkah kriatif dan  revolusioner dalam bisnisnya. Secara revolusioner dia mengubah bisnis intinya dari bisnis rokok ke agroindustri dan infrastruktur.
Hal ini terungkap dari langkah-langkahnya setelah enam bulan melepas saham di PT HM Sampoerna. Juga terungkap dari ucapan Angky Camaro, orang kepercayaan Putera: “Arahnya memang ke infrastruktur dan agroindustri.”

Terakhir, di bawah bendera PT Sampoerna Strategic dia sempat berniat mengakuisisi PT Kiani Kertas, namun untuk sementara dia menolak melanjutkan negosiasi transaksi lantaran persyaratan yang diajukan Bank Mandiri dinilai tak sepadan. Dia pun dikabarkan akan memasuki bisnis jalan tol, jika faktor birokrasi dan kondisi sosial politik kondusif.

Nama
Putera Sampoerna
Lahir
Schidam, Belanda, 13 Oktober 1947
Isteri:
Katie
Anak:
Michael Sampoerna
Ayah:
Aga Sampoerna (Liem Swie Ling)
Kakek:
Liem Seeng Tee

Pekerjaan
- CEO PT Sampoerna Strategic
- Presiden Komisaris PT HM Sampoerna

Pendidikan
– Diocesan Boys School, Hong Kong
- Carey Grammar High School, Melbourne
- University of Houston, Texas, AS

http://www.tokohindonesia.com

Peluang Niche Market

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mengembangkan bisnis/usaha kita ialah dengan menggarap niche market atau ceruk-ceruk pasar khusus. Menggarap ceruk pasar khusus (niche marketing) ini juga merupakan salah satu cara yang terbukti cukup ampuh bagi para entrepreneur pemula agar bisa survive dalam merintis bisnisnya. Sesuai namanya, niche market memang bukan pasar yang massal yang populasinya sangat luas. Namun niche market ini ceruk yang lebih spesial dan bisa digarap lebih dalam. Selain itu target pasarnya lebih jelas dan karakteristiknya lebih homogen sehingga memudahkan kita dalam melayani sektor ini. Kalau kita cukup jeli sebenarnya di setiap segmen pasar selalu ada niche market yang bisa dikembangkan dan digarap, hanya saja kita ini sering tidak menyadarinya bahwa ternyata ceruk itu ada, sangat potensial dan bisa digarap jadi duit. Kita baru tersentak setelah ada pelaku bisnis lain yang sukses menekuni di ceruk pasar itu. Sebenarnya di Indonesia banyak sekali contoh2 pelaku bisnis dan entrepreneur yang survive berkat kejeliannya mengembangkan niche market (ceruk-ceruk pasar khusus) seperti itu. Di bisnis riset pemasaran misalnya, kita tahu bahwa yang menjadi pemain terbesar alias kakapnya adalah AC Nielsen, perusahaan asing yang juga kondang dengan rating acara2 televisi. Namun jangan salah, beberapa perusahaan riset pemasaran lokal juga sukses dan membesar karena kejeliannya mengembangkan strategi niche marketing. Mungkin sudah ada yg familier dengan nama Frontier Markating Research, dia sangat kuat untuk riset pemasaran di industri consumer good. Lalu perusahaan riset MARS, sangat kuat di klien-klien perbankan. Yang jelas niche market ini bisa dicari dan dikembangkan di tiap industri, hanya saja memang kita harus jeli dan realistik. Banyak enterepreneur yang sukses dan bertahan lama di bisnisnya karena strategi ini. Sudah banyak yang membuktikan bahwa dengan membidik ceruk-ceruk khusus itu ternyata bisa ‘hidup’, survive, secara berkelanjutan. Ada relasi saya yang kerjanya ‘hanya’ mensuplai tanaman hias dan vas bunga untuk beberapa lembaga asing, sampai sekarang bisnis dia hanya itu namun terus eksis. Nampaknya itu kecil, padahal hasil ekspor itu sangat lumayan, bisa menghidupi lebih dari cukup. Ada juga relasi saya yang lain yang orang tuanya menjadi supplier papan kayu ke tiga perusahaan Jepang sampai turun-temurun. Yang saya heran, meski hanya mensuplai papan kayu ke tiga perusahaan, namun omset tahunannya diatas Rp 30 miliar. Ia telaten melayani niche marketnya. Bagi anda yang sudah baca buku “10 PENGUSAHA YANG SUKSES MEMBANGUN BISNIS DARI 0″ disusun Sudarmadi terbitan Gramedia, disana juga ada contoh tiga pengusaha yang sukses membangun bisnisnya dengan mengandalkan strategi niche marketing di awal perintisannya. Yaitu Winita Kusnandar, pengusaha wanita yang juga pemilik perusahaan konsultan hukum (law firm). Ketika beliau merintis usaha law firm, beliau tidak langsung menyasarkan jasa hukumnya bagi semua target market(publik), namun ke perusahaan-perusaha an asing di Indonesia terutama perusahaan pertambangan. Lalu Pak Budianto Darmastono yang menekuni bisnis kurir, beliau tidak serta merta menyasarkan bisnis kurirnya sebagai kurir untuk umum seperti PT Pos, TNT, DHL, TIKI, FedEX dll. Namun kurir khusus untuk pengantaran billing kartu kredit. Dan beliau sukses sehingga kini sudah punya karyawan lebih dari 2.000 orang. Lalu, Pak Ronny Lukito pengusaha tas dari PT Eksonindo juga tak melupakan strategi niche marketing ini dengan memasarkan tas merek Eiger khusus untuk kalangan petualang/outdoor/ streetgear, dan saya kira tak usah dijelaskan Eiger termasuk merek tas terpopuler di Indonesia saat ini. Jadi beliau2 itu survive dan sukses karena jeli dan mengembangkan niche market. Disini pesan utamanya, kalau kita hendak mengembangkan bisnis, kita tak perlu serakah dan bernafsu untuk melayani semua segmen pasar sekaligus. Nggak usah kemaruk. Apalagi saat perintisan. Selain sulit mengarahkan strategi kita, menggarap pasar yang massal itu biasanya persaingannya lebih ketat karena umumnya pasarnya sudah diketahui khalayak umum. Lebih baik memulai mengembangkan ceruk2 khusus (niche market) yang potensial dan dekat dengan kita, dan yang kita sudah punya pengetahuan dan kompetensi untuk melayani pasar itu. Dengan cara itu target market kita menjadi lebih jelas dan otomotis lebih mudah mengarahkan bidikan termasuk program promosi. Tentu, kalau kita sudah punya basis pasar yang kuat di niche market, bolehlah kita mulai melirik pasar yang lebih besar. Jadi, cobalah memulai mengembangkan niche market di dekat kita, siapa tahu ceruk itu menjadi jembatan sukses yang tak terbayangkan sebelumnya.

http://www.antonhuang.com

Intel Menggandeng Pengusaha Lokal Aceh

Perusahaan komputer Intel Indonesia Corporation menggandeng pengusaha Provinsi Aceh untuk memproduksi komputer lokal dengan merek “PC Get”, guna memenuhi kebutuhan pasar di wilayah tersebut.

“Kerjasama dengan pengusaha Aceh merupakan upaya dan komitmen kami memajukan industri Teknologi Informatika dan Komunikasi (TIK) di Indonesia,” kata Manejer Intel Indonesia Corporation, Budi Wahyu di Banda Aceh, Selasa.

Kerjasama Intel Indonesia Corporation dengan PT Global Enterepreneur Technology, perusahaan lokal itu juga dimaksudkan agar masyarakat Aceh terus terdorong untuk merasakan manfaat penggunaan komputer dalam kehidupan sehari-hari.

Dijelaskan, perusahaan mikroprosesor terbesar di dunia itu selain memperluas akses masyarakat teknologi informatika, juga menyediakan akses pengadaan komputer berkualitas dengan harga bisa terjangkau masyarakat luas.

Komisaris PT Global Enterepreneur Technology, Amir Faisal, menyatakan selama ini hanya orang-orang tertentu yang memiliki komputer dikarenakan harga beli dipasaran masih tinggi

“Faktor masih tingginya harga satuan komputer itu berdampak terbatasnya kepemilikan. Karena itu kami berpikir kehadiran perusahaan komputer di Aceh sangat diperlukan masyarakat,” katanya menjelaskan.

Produk TIK perusahaan lokal di Aceh itu dilengkapi dengan prosesor intel. Komputer produk lokal tersebut akan dipasarkan dengan harga bisa terjangkau masyarakat, khususnya dari kalangan menengah ke bawah.

“Melalui penggunaan komputer dalam kehidupan sehari-hari maka akan mendorong masyarakat mempercepat akses informasi kepada masyarakat,” kata dia.

Perusahaan komputer lokal tersebut juga akan berkoordinasi dengan Pemerintah Aceh untuk tujuan pengembangan TIK, khususnya di daerah pedalaman dan tertinggal di provinsi ujung paling barat Indonesia ini.

“Kehadiran kami juga bertujuan meningkatkan pendapatan masyarakat, karena akan mampu menampung tenaga kerja dalam jumlah relatif banyak,” kata Amir Faisal.(*)

http://www.antaranews.com

Yuk Jadi Pengusaha!

Dalam satu tahun terakhir sering saya dengar atau temui anak-anak muda yang mulai mendapatkan penghasilan tambahan atau istilahnya side job dengan melakukan beragam hal yang tidak pernah mereka lakukan sebelumnya. Mulai menjadi penerjemah buku, laporan tahunan perusahaan atau product manual dari beragam brand terkenal. Selain itu juga ada yang menjadi graphic designer atau konsultan beragam kebutuhan perusahaan seperti disain, komunikasi, atau sebagai penyelenggara acara (event organiser). Yang lebih mengesankan lagi semua itu dikerjakan dari mal, cafe, coffee shop atau internet cafe. Bahkan rumah dan warnet pun semakin ditinggalkan sebagai tempat bekerja. Yang menjadi klien mulai dari keluarga, sahabat atau kerabat dekat. Banyak dari anak-anak muda tersebut yang masih menyelesaikan kuliah. Tidak sedikit juga yang baru mulai bekerja di perusahaan-perusahaan konsultan asing bergengsi di Jakarta dan Surabaya. Sangat dinamis, sangat penuh gairah dan sangat cerah masa depan dari anak-anak muda tersebut. Kombinasi antara working hard, working smart dan playing hard semakin bergeser dari tren musiman menjadi gaya hidup. Kalau keadaan ini terus berlangsung bahkan terus ditingkatkan, dapat dipastikan bahwa prospek bisnis dan perekonomian Indonesia juga semakin cerah. Fenomena ini membuktikan bahwa banyak bakat yang tidak lagi terpendam yang dimiliki oleh generasi muda Indonesia. Fenomena ini juga membuktikan bahwa generasi yang lebih tua atau setidaknya lebih senior semakin terbiasa mempercayakan pekerjaan yang cukup penting kepada generasi muda yang minim namun haus pengalaman. Yang penting adalah keberanian untuk memulai dan mencoba serta komitmen yang tinggi terhadap kualitas dan tenggat waktu. Bagi saya dan rekan-rekan pengusaha muda, fenomena ini sangat kami syukuri. Bukan apa-apa, mereka dapat benar-benar memenuhi beragam kebutuhan usaha yang tadinya hanya dilayani oleh konsultan asing yang harganya tidak murah dan hasilnya sering kali kurang memuaskan. Walaupun masih bersifat informal, kompetisi sudah mulai tampak bahkan meningkat di antara para side -jobers. Mungkin tidak lama lagi sebagian dari mereka akan mulai mendirikan perusahaannya sendiri dan perlahan-lahan menjadi sekumpulan pengusaha muda yang kreatif, haus pengalaman dan tentunya haus akan keberhasilan. Saat itu, harga mereka tidak akan semurah yang mereka tawarkan sekarang. Tapi tidak apa-apa. Lebih ‘sreg’ rasanya membayar agak lebih mahal kepada sesama pengusaha nasional yang masih muda-muda, dibandingkan perusahaan besar, apalagi perusahan asing. Mari menjadi juara di negeri sendiri. Yuk jadi pengusaha!

Sandiaga S. Uno Ketua Dewan Pembina BPP HIPMI

From: http://www.hipmi.org

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 46 other followers